Story HikmahNisa

Jangan Khawatir Bunda Saliha

05.15 buka mata, masih setengah sadar, melihat jam dinding yang masih terlihat samar “astagfirullah, subuh” ucap dalam hati. Mencoba melepaskan nipple yang masih dihisap baby dengan mata terpejam. Pelan pelan, pelan pelan, berhasil. Bergegas melaksanakan shalat subuh yang sudah mepet itu.

“Hari ini jangan sampai kelewat Dhuha lagi” kembali bergumam dalam hati. Lanjut melakukan berbagai macam pekerjaan di dapur, “harus cepat sebelum baby bangun”. Mulai dari cuci piring, masak, cuci baju, jemur, sapu, pel dll. Tentu diselingi rengekan baby yang kehausan atau sekedar ingin rasa aman dalam dekapan ibunya. Lanjut siapkan bekal ayah yang akan berangkat ke kantor.
Baby bangun lanjut tugas memandikan, menyupi dan mengajak main. Melirik jam “masih keburu mandi dan makan dulu”. Tak disangka tak diduga baby sedang manja hari itu, tidak mau ditinggal ibunya. Alhasil mandi dan makanpun ngaret ditambah penuh drama. Akhirnya beres semua, melirik kembali jam 11.20. Waktu dhuha habis, “yah tak apa masih ada hari esok” kembali menyemangati.
Masuk waktu Dzuhur, alhamdulillah baby tidur, berharap bisa rawatib dulu dan lebih khusu. Seketika semua buyar mendengar rengekan baby bangun dari tidurnya. Dan shalat rawatibpun kembali terlewat, kekhusuan dalam shalatpun kembali tak didapat.
Masuk waktu Asar, berharap bisa shalat tepat waktu, ternyata baby minta ditemenin dulu, akhirnya shalatpun ditengah waktu Asar.
Magrib tiba, baby sedang anteng main sendiri, alhamdulillah bisa shalat di awal waktu, moga bisa lebih khusu. Ternyata baby naik-naik ke punggung ketika sujud, menarik-narik mukena ketika ruku. Shalatpun dengan sesekali mendudukan baby kembali keposisi aman (dulu).
Isya pun tak jauh dari itu. Setiap hari terus seperti itu. Kapan kembali bisa shalat dengan khusu? Menikmati berkomunikasi berdua dengan Rabnya dengan penuh haru? Kapan kembali bisa berlama-lama berdoa mencurahkan isi hati padaNya?
———
Dear Bunda shaliha, Allah sangat tau perasaanmu saat ini, Allah pun sangat rindu padamu, tapi ternyata Allah pun senang ketika kita merawat titipanNya dengan baik. 
Dear Bunda shaliha, bukankah niat baik kita sudah dicatat malaikat walau kita belum sempat melaksanakannya. 
“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dear Bunda shaliha, Allah itu Maha baik memberi kita hikmah dan pembelajaran untuk bisa menghargai waktu luang.
Jangan khawatir Bunda shaliha, kita akan kembali merasakan nikmatnya shalat dengan khusu, nikmatnya bermudajat padaNya, nikmatnya melantunkan ayat-ayatNya tanpa ada gangguan. Tapi kita pasti akan merindukan saat-saat sekarang dan ingin kembali ‘digodai’ si kecil yang sudah beranjak dewasa itu. 
Jangan khawatir Bunda shaliha, tetaplah berikan yang terbaik pada titipanNya dengan niat hanya mencari RidhaNya. Kalau sudah begitu bukankah setiap menit detik kita saat ini bernilai ibadah? 😊😊
By. Hikmah Khaerunnisa

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top