Story HikmahNisa

Konflik yang Sering Muncul di Tahun-Tahun Awal Pernikahan dan Cara Mengatasinya

Alhamdulillah, Barakallah Tabarakallah hari ini genap 2 tahun pernikahan kami. Semoga Allah selalu berkahi, tujuan rumah tangga kami tetap untuk aktualisasi ketaqwaan pada Allah dan untuk Allah saja.

Dua tahun sudah terlewati bukan berarti tidak ada krikil dalam rumah tangga kami, banyak krikil-krikil yang alhamdulillah semakin membuat kami dewasa dan memahami satu sama lain.

Jangan sampai krikil-krikil ini tersimpan dan lama-lama menjadi batu besar yang akan menjadi bom waktu. Jadi prinsip kami, ada krikil bereskan, ada krikil bereskan, ada krikil lagi bereskan, selesaikan.

Siapa yang tak menginginkan rumah tangga harmonis. Kata sakinah, mawadah, warahmah tentu tak asing ditelinga kita. Kata-kata tersebut sering terucap kala mendoakan sepasang yang baru saja berujap janji sehidup semati dalam pernikahan.

Namun tak serta merta pernikahan impian dan rumah tangga penuh berkah datang dengan sendirinya. Tentu harus dengan perjuangan yang mungkin tak mudah.

‘Pernikahan adalah Universitas Kehidupan’

Tentu ini akan jadi sekolah terlama kita bukan?. Layaknya sekolah, kita belajar, kita juga diuji. Konflik dalam rumah tangga pasti ada, namun bagaimana kita mampu mengatasi dan bersikap ketika terjadi konflik. Di tahun-tahun pertama pernikahan waktu untuk kita saling mengetahui dan memahami seluk beluk pasangan kita dari sifat, kebiasaan dan lain sebagainya.

Tak sedikit pasangan yang menyerah di tahun-tahun pertama pernikahan alasan yang paling umum adalah karena ketidakcocokan. Lalu apa saja konflik yang biasa terjadi di tahun-tahun pertama pernikahan? Dan bagaimana menyikapinya?

1. Keluarga Besar
Menikah bukan hanya menyatukan dua manusia tapi dua keluarga. Keluarga yang berbeda latar belakang, pengalaman, pendidikan, pengasuhan dan lain sebagainya, kemudian disatukan dengan ikatan pernikahan. Mungkinkah terjadi konflik? Yaa, sangat mungkin.

2. Lingkungan Pertemanan
Sadari bahwa ketika kita menikah maka ruang gerak semakin sempit. Ketika sudah memutuskan menjadi suami/istri kita tidak bisa lagi memutuskan keinginan sendiri tanpa memikirkan pasangan kita. Yang dulunya sering nongkrong dengan teman sampai larut malam, atau weekend dihabiskan bersana teman-teman. Mungkin ketika menikah sudah tidak bisa pulang larut karena istri dan anak menanti dirumah, weekend pun akan sangat jarang dihabiskan bersama teman-teman. Apakah akan memunculkan konflik? Iyes, saya mengalaminya sendiri.

3. Kehidupan Sehari-hari Berubah.
Ini jelas akan terjadi yaa, coba aja bayangkan yang asalnya tidur sendiri sekarang berdua bahkan bertiga dengan anak. Yang asalnya memikirkan makan sendiri sekarang memikirkan makan pasangan dan anak juga. Banyak hal yang akan berubah ketika kita menikah dan kita harus siap dengan perubahan tersebut. Apakah akan memunculkan konflik? Iyaa, saya mengalaminya sendiri.

4. Ruang Privasi Semakin Sempit
Ketika memutuskan menikah untuk me time saja harus memilih situasi dan kondisi yang tepat, apalagi ibu yang sudah memiliki anak. Ketika menikah kita harus berempati dengan pasangan dan anak, tidak bisa lagi egois dengan keinginan sendiri misalnya untuk mendengarkan musik sendiri dikamar, masak dan makan makanan kesukaan sendiri tanpa memikirkan pasangan dan anak. Sungguh ruang privasi akan semakin sempit. Apakah akan muncul konflik? Lagi-lagi saya katakan yes.

Lalu sudah begini, bagaimana menyikapinya?

1. Komunikasi Produktif
Menurut saya, komunikasi produktif ini kunci kita menghadapi perbedaan dan konflik dalam rumah tangga. Banyak pasangan yang berkeluh kesah mengenai rumah tangganya pada orang lain bahkan di media sosial, namun ternyata pasangannya tidak tau masalahnya apa, jelas komunikasi pasangan ini tidak beejalan baik. Seni dalam berkomunikasipun harus diperhatikan, komunikasi yang tidak produktif bisa membuat konflik bertambah berat dan bukan solusi yang didapat.

2. Hargai Perbedaan
Semua individu itu unik, yes kita berbeda saru dengan yang lainnya. Apalagi kita dan pasangan, asal keluarga berbeda, pola pengasuhan berbeda, pendidikan nerbeda, latarbelakang berbeda, dan banyak perbedaan lainnya. Maka, jangan menuntut pasangan harus sama atau sesuai dengan kita, hargai perbedaan.

3. Jangan Libatkan Anak dan Orangtua
Ketika terjadi konflik dengan pasangan, berusaha menjadi pribadi yang dewasa untuk menyelesaikannya berdua, apalagi ketika konflik kecil yang terjadi. Ketika kita menyelesaikan berdua tanpa turut campur orang lain, percayalah kita akan semakin saling memahami pasangan dan semakin dewasa menyikapi konflik yang terjadi di rumah tangga. Jad jangan libatkan anak dan orangtua.

4. Saling Berempati
Cobalah sesekali bayangkan bagaimana jika kita berada di posisi pasangan kita. Bagaimana beban yang ia rasakan, bagaimana lelah yang ia rasakan, bagaimana perjuangannya untuk keluarga. Cobalah berempati, mencoba merasakan apa yang dirasakan pasangan kita untuk kita dan keluarga.

Semoga pernikahan yang diidam-idamkan kita semua menjadi nyata, bahwasanya cinta dalam pernikahan ini akan terus sampai syurga nanti. Amiin YRA.

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

5 thoughts on “Konflik yang Sering Muncul di Tahun-Tahun Awal Pernikahan dan Cara Mengatasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top