Story HikmahNisa

Anak Berlatih Memilih

“Qatrunada makan yuk, ibu hari ini masak sayur bayem, tempe goreng dan ayam goreng. Nada mau makan sama apa?”, sambil saya gendong dan menunjuk menu makanan yang tersedia kepadanya.

“Mekan (maksudnya makan), yam (maksudnya ayam)” , terkadang jawabannya hanya menunjuk menu makanannya, karena Nada masih belum lancar berbicara.

“Oh, mau makan sama ayam nak?” , ia tersenyum terkadang tepuk tangan tanda bahwa setuju dengan menu makanan yang dipilihnya.

“Nada mau makan pakai tangan atau sendok?”, sambil saya tujukan tangan dan sendok kepadanya.

Ia diam tak menjawab ataupun menunjuk, mungkin ia bingung atau belum paham maksud ‘pakai tangan dan sendok itu apa’, kalau seperti ini tugas saya mengarahkannya.

“karena Nada makannya sama ayam goreng, jadi pakai tangan saja ya, biar lebih mudah makannya”

Lagi-lagi responnya tepuk tangan dengan senyuman tanda ia setuju dengan pilihan yang saya ajukan dengan penjelasannya. Jika ia memilih makan dengan sayur tentu saya tidak akan memberikan ia pilihan, akan langsung saya sediakan sendok untuknya.

“Nada mau ibu suapin atau makan sendiri?”

“Diyi (maksudnya sendiri)”

“Iya sok atuh, Nada makannya duduk, makan yang baik ya, yang habis”

Ia langsung makan dengan lahap dan hati senang, seringkali jika makan atas pilihannya sendiri makannya lebih lahap dan sering nambah, alhamdulillah.

Melatih si kecil membuat pilihan salah satu hal yang penting, melatih dengan pilihan-pilihan sederhana saja dulu. Hal ini akan membantu ia untuk jadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab. Membantu si kecil juga untuk melatih feel nya, apa yang ia suka, apa yang ia tidak suka, apa ia nyaman atau tidak dengan pakaian yang digunakan, dll. Tentunya pilihan yang diberikan kepada si kecil sudah melewati proses seleksi oleh kita sebagai orangtua. Contohnya seperti percakapan di atas, Nada tidak bisa memilih mie instan karena tidak ada di pilihan yang saya berikan. Ajarkan anak untuk memilih yang baik diantara yang baik dulu, apalagi Nada masih dibawah 2 tahun, belum mampu memilih yang terbaik untuknya, sehingga 90% pemilihan keputusan masih dipegang saya dan suami, tapi kami perlahan mengajaknya untuk membuat pilihan.

Mengapa Melatih Anak untuk Memilih Penting?

Because life is choice, setiap hari bahkan setiap saat kita akan dihadapkan dengan pilihan.

‘Mau bangun pagi dan sarapan dulu atau bangun siang tanpa sarapan?’, ‘mau nyuci dulu atau mandiin anak dulu?’, ‘mau pergi naik kendaraan umum atau pribadi?’, ‘mau makan apa siang ini?’. ‘mau pakai baju yang mana ya?’, dsb.

Pict From Google

Selama hidup, kita akan dihadapkan dengan pilihan. Maka penting sekali mengajarkan anak memilih, semakin ia dewasa semakin banyak  pengambilan keputusan yang harus dipilih. Akan jauh lebih rumit dari sekedar memilih menu makanan, jika tidak dilatih dan semua dipilihkan oleh orang tua, kelak ia akan merasa kebingungan, lama sekali untuk sekedar memilih baju yang akan dipakai  dan kemungkinan juga akan salah kostum.

Anak belum mampu memilih yang baik untuknya, its true. Oleh karena itu orang tua yang harus mengarahkan. Pemilihan sekolah TK dan SD itu akan jadi pure pilihan saya dan suami tanpa harus memberinya pilihan, ia terlalu kecil untuk harus memilih sekolah. Pemilihan SMP dan SMA, saya dan suami akan survey terlebih dahulu memilih beberapa pilihan sekolah yang terbaik untuknya, menggali informasi tentang  seluk beluk sekolah (kurikulum, pengajar, kegiatan dll.) dan lingkungannya kelak. Setelah menyeleksi beberapa sekolah yang agaknya cocok untuk anak kami, lalu kami akan mengajaknya survey melihat beberapa sekolah yang sudah kami pilihkan,mengajaknya diskusi tentang kelebihan dan kekurangan sekolah A dan sekolah B. Lalu kami baru akan bertanya “teteh lebih tertarik sekolah dimana? di sekolah A atau B?”.

Hal ini juga mengajarkannya untuk menganalisa, mengajaknya survey dan diskusi tentu membuat anak juga berlatih berfikir kritis,

‘Kalau saya sekolah di sekolah A, saya harus berangkat lebih pagi karena jaraknya lebih jauh dibandingkan sekolah B’, ‘Kalau saya sekolah di sekolah B, lebih dekat dengan rumah namun jadwalnya akan lebih padat dibanding sekolah A’.

Mungkin ini yang akan dipikirkannya, ini juga melatih untuk menerima konsekuensi yang harus ia jalani nantinya. Memilih sekolah A berarti ia harus menerima konsekuensi berangkat lebih pagi karena jarak yang lebih jauh, memilih sekolah B ia harus menerima konsekuensi jadwal lebih padat. Ia akan menganalisa dan merasakan feel nya, apakah dirinya akan mampu dan anaknya bahagia. Dengan mengajaknya diskusi dan memilih anak akan merasa dihargai dan didengar pendapatnya. Usia anak SMP dan SMA sudah memiliki pemilikan/pendapat sendiri, namun tentu pintar-pintarnya kita sebagai orang tua untuk mengarahkan.

 

Anak Terarah, Bukan Malah Kehilangan Arah

Banyak yang beranggapan bahwa meminta anak memilih akan membuatnya tidak patuh kepada orang tua, berprilaku seenaknya sesuai keinginannya, menyuruh orang tua untuk memberikan keinginannya. Menurut saya ini sesuatu yang berbada, mungkin yang dimaksud adalah ketika anak dibiarkan memilih keinginannya secara bebas dan orang tua selalu memberikan keinginannya tanpa pertimbangan dan pengarahan. Tentu ini akan memicu prilaku anak yang tidak diharapkan kelak.

Melatih anak memilih bukan berarti memilih secara bebas tanpa batas dan aturan, tetaplah harus di koridor bimbingan orang tua, sehingga anak terarah bukan kehilangan arah.

Banyak sekali kasus anak dan remaja yang tidak patuh, berprilaku seenaknya, berani memerintah orang tua, dll. Contoh sederhana, anak tidak mau makan makanan yang ada di rumah, ia meminta orang tua menyediakan makanan yang ia inginkan.

Pict Prom Google

Kalau saya tentu tidak akan mengabulkan keinginannya, jika ia lapar ya makanlah yang ada dirumah, jika tidak mau dan menginginkan makanan yang ia mau, silahkan masak sendiri atau membeli sendiri dan pakai uang sendiri, apalagi sekarang sudah mudah memesan menu makanan secara online. Jika tidak mau juga, ya silahkan nikmati rasa laparnya, ini bagian dari konsekuensi dari pilihan.

Membantu dan membimbing anak berlatih memilih salah satu dari sekian banyak tugas orang tua untuk memberikan hak anak, hak untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab.

Semoga Bermanfaat 🙂

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top