Story HikmahNisa

SEPENGGAL KISAH MENGHADAPI MAM WAR

Saya kembali menarik nafas panjang, menghapus air mata yang kembali mengalir. Merasa hidup saya sekarang direbut oleh bayi mungil ini. Perasaan bahagia, sedih dan tertekan, kini menjadi satu.

Sejak kuliah dulu saya aktif berkegiatan, beberapa organisasi dipegang, menjadi asisten dosen juga dijalani. Sebutlah saya tipe mahasiswi teladan, tugas harus tepat pada waktunya dan harus sebagus yang saya bisa. Ketika lulus, harus segara mendapat pekerjaan, tidak bisa berlama-lama dirumah dengan membuang waktu tak jelas. Saya sangat menjungung tinggi aturan juga norma dalam kehidupan.

Tak lama dari lulus kuliah saya bekerja sebagai HRD di sebuah Perusahan. Semenjak menikah, saya harus merelakan untuk resign dari pekerjaan, memutuskan ikut dengan suami dan tinggal di kota Jakarta. Saya penuh perencanaan, sebelum menikah sudah melamar beberapa pekerjaan di Jakarta. Seharian dirumah dan tidak ada kegiatan produktif itu hanya akan membuat saya pusing.

Saya saat bekerja di ranah public

Ketika proses seleksi dan interview di beberapa perusahaan, saya positif hamil. Suami dan keluarga besar bersuka cita, namun tidak dengan saya, saya belum ikhlas menerima kehamilan yang terbilang cepat ini. ‘Mana ada perusahaan yang mau menerima wanita hamil?’, batin saya mengeluh tak terima.

Tak menyerah sampai disitu, saya mencari pekerjaan freelance. Lulusan psikologi mampu bekerja menjadi freelance tester, observer atau scorer dalam rekruitment atau assesment. Tak lama, saya diterima disebuah perusahaan bidang recruitment menjadi freelance tester. Seminggu hanya bekerja 3-4 hari saja, hanya ketika ada proses rekruitmen di prusahaan tersebut. Jarak antara rumah dan kantor cukup jauh, saya harus naik angkutan umum, KRL, juga berjalan kaki. Badan mudah lelah, mudah capek, mudah pegal ketika bekerja.Saya baru menyadari bahwa kini tak bisa lagi menuntut diri saya seperti dulu, saya sedang hamil, ketika fisik yang lemah dan bertambah lemah ini menyadarkan bahwa saya tak seharusnya bersikap egois.

Berapa banyak wanita yang mengidamkan diberi keturunan namun tak kunjung datang?. Berapa banyak keluarga yang sedang menanti buah hati dan merelakan semua yang dimiliki dengan harapan adanya tangis dan tawa bayi mungil dirumah?. Lalu saya? Saya sungguh mengkufuri nikmat yang luar biasa dariNya. Saya menangis tersedu-sedu didalam shalat, menangis menyesali ketidakikhlasan saya atas ketepatanNya. Memohon ampun padaNya, semoga Allah mengampuni diri yang sungguh berlumur dosa ini. Amiin YRA.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Saya kembali menarik nafas panjang dan meyakinan diri bahwa segala ketetapan Allah itu baik.

Perut semakin membersar dan tiba waktunya untuk bayi didalam kandunhan ini keluar, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan tinggal di Bandung untuk lahiran.

‘Nanti setelah bayi keluar, saya bisa bekerja lagi, saya bisa berkarir lagi, ya saya bisa melanjutkan study yang dari dulu di tunda-tunda.’ Pikiran mulai berjalan-jalan mencari harapan untuk bisa berkarir kembali. Lagi-lagi saya masih menginginkan pekerjaan dan karir bagus di sebuah perusahaan.

Dan kini, bayi sudah lahir. Namun, hidup saya semakin tidak bebas, serasa terpenjara dalam rumah. Bayi ini kini merenggut seluruh hidup saya, bahkan untuk sekedar makan dan ke kamar mandipun harus cepat karena bayi masih ingin dipeluk, disusui, diganti popok. Lalu, mana harapan saya dulu yang bisa bekerja lagi? berkakir lagi? bisa sekolah lagi?.Mulailah dapat sindiran sana-sini, datang pertanyaan dan pernyataan yang sebenarnya hanya untuk basa basi yang tak perlu, dan itu hanya melukai hati yang kini mudah rapuh.

“Udah ga kerja ya? Sayang dong ilmunya”.

“Jadi kapan lanjut study nya? Kalau kelamaan nanti otaknya udah keburu tumpul”.

“Jadi sekarang dirumah aja? Emangnya ga bosan?”.

“Sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya diem rumah lagi”.

Dan berbagai ‘nyinyiran’ lainnya yang membuat hati ini begitu sakit. Belum pulih jaitan pasca lahiran, belum benar-benar bisa mengatasi baby bluse yang mendera, lalu harus ditambah dengan ini. Rasanya? Wow luar biasa loh.

Life Is a Choice

Lagi-lagi saya yang tak sempurna ini ingin hidup yang sempurna, lagi-lagi idealisme saya mendominasi. Ingin ikut bersama suami dan jauh dari orangtua agar bisa lebih mandiri, ingin urus bayi berdua tanpa campur tangan oranglain, dan ingin kembali berkarir juga. Ingin urusan rumah tangga dan pengasuhan anak terhandle tanpa mengikutsertakan oranglain tapi karir juga harus berjalan baik. Hello? Siapa saya? Mau photocopy buat perbanyak diri?. ‘Tidak bisa, saya tidak akan mampu’, mencoba meredam ego yang sedang memuncak ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus memilih.

Saya harus memilih dan semua pilihan saya ada konsekuensi yang harus diterima dan harus siap. Kembali menguatkan batin untuk memilih. Setelah kegalauan yang cukup panjang, bismillahirahmanirahim saya memilih untuk focus bekerja dirumah. Walau setelah pilihan itu tak serta merta membuat saya langsung menerima. Proses panjang untuk adaptasi peran baru dan itu sungguh tidak mudah.

Saya selalu menguatkan diri dengan berbagai aktifitas yang bisa dilakukan dirumah, masuk komunitas ibu belajar, mengikuti seminar-seminar parenting, dan kegiatan lain yang membuat saya merasa produktif menjadi seorang ibu. Dari sini saya menyesali keegoisan diri saya semenjak hamil dulu dan ingin memperbaikinya.

Banyak godaan datang setelah saya memilih.  Beberapa teman menawarkan pekerjaan lagi pada saya. Tertarik? Sangat. Siapa yang tidak tertarik punya posisi yg bagus di perusahaan, punya uang pribadi lagi setiap bulan, mengembangkan ilmu dan kemampuan. Saya sangat bersyukur memiliki teman-teman yang peduli, saling bantu, selalu ingat walau sudah lama sekali tidak bertemu. Itulah ukhuwah, jazakallah teman-teman.

Dengan hati yang mantap saya menolak tawaran itu, karena saya sudah memilih. Memilih tinggal berdua bersama suami, itu artinya konsekuensi saya untuk urus bayi sendiri tanpa bantuan keluarga atau PRT. Saya sudah memilih memberi ASI langsung, itu artinya konsekuensi saya punya bayi koala yang nempok kemana-mana.

 

Tentu di setiap pilihan saya ada alasan, di setiap pilihan ada pikiran yang matang untuk memilih dengan segala konsekuensinya. Tidak hanya saya, seluruh ibu di dunia ini pasti memiliki alasan disetiap pilihannya dan yang dipilih itu pasti yang terbaik dari yang baik. Karena ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga. Dan disetiap pilihan ibu selalu ada cerita istimewa didalamnya.

Saya yang kini memilih bekerja di ranah domestik. Membersamai Qatrunada yang cepat sekali tumbuh besar.

Sungguh sangat tidak perlu mempersoalkan perbedaan disetiap pilihan ibu. Semua individu adalah berbeda dan unik, kita idak bisa membandingkan ibu dengan ibu lainnya, anak dengan anak lainnya. Cukup bandingkan diri kita sekarang dengan diri kita sebelumnya, apakah sudah lebih baik atau belum?.

Perdalam Ilmu dan Perluas Pertemanan

Perdalam ilmu yang sudah kita pilih, saya memilih untuk focus bekerja di rumah dan memilih mengoptimalkan diri dalam menulis. Jadi penting untuk saya perdalam ilmu tentang manajemen rumah tangga, parenting, manajemen diri juga ilmu mengenai kepenulisan. Mulailah saya mencari berbagai kegiatan dan komunitas yang dapat memperdalam ilmu yang sudah saya pilih ini. Beberapa seminar, workshop yang mengusung tema parenting dan manajemen rumah tangga saya ikuti. Saya juga membeli buku-buku yang menunjang kefokusan ini. Mulai mencari-cari komunitas ibu belajar dan alhamdulillah dipertemukan dengan Institut Ibu Profesional (IIP).

Saya juga kembali mengeluri hobi yang terlupakan karena kesibukan diluar rumah, saya kembali menulis. Saya ingin produktif walau hanya dari rumah. Mencoba menjadi blogger, sebagaimana blogger pemula, saya harus banyak belajar dan bergabung di beberapa komunitas blogger.

Sangat bersyukur masuk di komunitas ibu belajar IIP, komunitas-komunitas blogger. Banyak sekali ilmu yang di dapatkan dari sini, salah satunya bahwa semua ibu adalah ibu bekerja. Jadi tidak ada perbedaan, tidak ada deskriminasi, tidak ada yang mana yang lebih baik.

“Sejatinya, Semua Ibu adalah Ibu Bekerja. Yang satu memilih focus bekerja di RANAH PUBLIC, satu lagi memilih focus bekerja di RANAH DOMESTIC, kemuliaannya sama, kebanggannya sama. Yang membedakan keduanya adalah faktor KESUNGGUHAN dalam menjalankan peran peradabannya masing-masing” (Institut Ibu Profesional).

Dengan masuk komunitas ibu belajar,  mengembangkan sayap walau dari rumah,   otomatis saya memperluas pertemanan juga. Saya banyak belajar dari kehidupan orang lain, perjuangan ibu lainnya. Saat merasa diri paling merana, saat merasa sudah jadi ibu paling baik, cobalah perluas pertemanan, diatas langit masih ada langit.

Dengan memperluas pertemanan, kita akan lebih memahami perbedaan dan tidak alergi karenanya. Dengan memperluas pertemanan akan mengasah rasa empati diantara kita. Dengan memperluas pertemanan, kita akan tahu bahwa tak seharusnya kita membandingkan satu dengan lainnya.

Jadi habiskanlah waktu kita untuk memperbaiki diri sendiri, fokuslah memperdalam ilmu untuk diri dan sebar kebaikan pada lingkungan. Maka tak akan ada waktu untuk kita bisa membandingkan diri kita dengan orang lain, tak ada waktu untuk ‘menyinyir’ ibu lain hanya karena perbedaan.

Diantara perbedaan, jadilah kita saling menghargai, bukan saling menyindir satu sama lain. Jadilah kita saling berempati, bukan saling antipati. Tidak ada siapa yang lebih baik dari siapa, semua sama, yang membedakan hanyalah kesungguhan kita dalam menjalani peran yang sudah dilipih. So be profesional.

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

54 thoughts on “SEPENGGAL KISAH MENGHADAPI MAM WAR

  1. Suka dengan penutupnya mba

    Diantara perbedaan, jadilah kita saling menghargai, bukan saling menyindir satu sama lain. Jadilah kita saling berempati, bukan saling antipati. Tidak ada siapa yang lebih baik dari siapa, semua sama, yang membedakan hanyalah kesungguhan kita dalam menjalani peran yang sudah dilipih.

  2. Bener mbk, sebagai seorang ibu yang notaben nya seorang istri, seorang perempuan dan juga seorang anak. kita harus berani melakukan sesuatu hal yang positif tanpa batas. Memperbanyak pertemanan dan pengetahuan mampu membuat hidup kita lebih bahagia.

  3. Orang kadang suka asal bunyi nyinyir ya, gak tahu kita yang menjalani rasanya gimana. Kalau Mbak dulu gak pengen punya anak dulu, kalau saya sekarang lagi pengen punya anak, menunggunya, belum berhasil setelah satu tahun menikah. Dan hal itu pun ya tetep aja ada yang nyinyir ini dan itu. Kadang nyesek juga. Padahal ya, kita berbeda satu sama lain, agar kita juga bisa menghargai orang lain dan saling mengasihinya. Semoga kita tetap istiqomah dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah sampai detik ini.

  4. Duh saya paling ndak bisa ikut ikutan mom war, kalau ada satu teman ngelempar tema dan saling berbalasan satu sama lain dan meruncing menjadi sebuah mom war, saya mending menyingkir tak ikut berkomentar. Tapi kadang gemas, kadang malas ngeladenin, karena toh sejatinya setiap perempuan, setiap isteri dan setiap ibu diberikan ruang berkreatifitas masing-masing. Meskipun mereka berbeda dalam posisi dan porsi tujuannya Insya Allah sama, ingin dirinya sendiri dan keluarganya bahagia.

  5. Jadi habiskanlah waktu kita untuk memperbaiki diri sendiri, fokuslah memperdalam ilmu untuk diri dan sebar kebaikan pada lingkungan. Maka tak akan ada waktu untuk kita bisa membandingkan diri kita dengan orang lain, tak ada waktu untuk ‘menyinyir’ ibu lain hanya karena perbedaan. noted banget itu mbaak. makasih banyak yaaah

  6. Jadi habiskanlah waktu kita untuk memperbaiki diri sendiri, fokuslah memperdalam ilmu untuk diri dan sebar kebaikan pada lingkungan. Maka tak akan ada waktu untuk kita bisa membandingkan diri kita dengan orang lain, tak ada waktu untuk ‘menyinyir’ ibu lain hanya karena perbedaan. noted banget ini, jleeeb. Makasih

  7. Ah kisahnya nyaris sama mbak, dulu waktu tau hamil saya juga sedih banget, karena masih ingin melakukan hal lainnya. Hingga 2 tahun berikutnya saya benar2 nggak ngapa2in selain ngeblog n sesekali ada project nulis. Sempat yang down n sedih banget. Tapi kembali lagi bahwa semua itu pilihan. Lantas saya memilih untuk berdamai dengan diri sendiri. Kini anak saya sudah 3,5 tahun, walau banyak tawaran kerjaan kantoran saya memilih tetap di rumah n memutuskan bekerja secara freelance. Saya belajar bersetia dgn keputusan yg sudah diambil. Setelah berdamai dgn diri sendiri rasanya jauh lebih baik n nggak mau ngejudge orang lain lagi.

  8. Setuju banget ini “Semua Ibu adalah Ibu Bekerja. Yang satu memilih focus bekerja di RANAH PUBLIC, satu lagi memilih focus bekerja di RANAH DOMESTIC, kemuliaannya sama, kebanggannya sama”, toh pilihan hidup ada pada masing-masong orang yanv menjalaninya.

  9. Setujjuuuu sama quote di akhir.

    Kadang, ketika ada yg berbeda dengan pribadinya malah dinyinyirin. Kenapa begitu, kenapa begini. Pusing kalau mikirin omongan orang2 kaya gitu.

  10. Persoalan yang banyak dihadapi perempuan berpendidikan tapi memilih di rumah saja. Saya merasakannya, qeqeqe. Kalau mikirin persepsi orang bakal bikin stres. Kuncinya harus bisa cuek, yakin dengan pilihan diri sendiri dan stop membandingkan. Apa yang mba lakukan sudah tepat. Mempeluas pertemanan membuat wawasan kita tambah tetbuka.

  11. Sepakat perbanyak ilmu jadi kalau orang nyinyir kuat deh menghadapinya hehe… Kita sebagai Ibu perlu terus up grade ilmu ya, dunia ASI itu luas aku juga sering ikut pelatihannya dari ASI dan MPASI

  12. Sepakat perbanyak ilmu jadi kalau orang nyinyir kuat deh menghadapinya hehe… Kita sebagai Ibu perlu terus up grade ilmu ya, dunia ASI itu luas aku juga sering ikut pelatihannya dari ASI dan MPASI

  13. Sama Mbak. Aku pingin berkarir tapi kalau lihat kondisi fsikku dan anak2 yang masih butuh aku disampingnya, freelancer masih menjadi pilihan. Kelak akan datang masanya bisa sekolah lagi mba. Aku sekolah lagi pas anak pertama 3,5 tahun. Eh tapi malah hamil, hoho

  14. I feel u mbak. Ak bahkan sempat kena PPD gara2 hamil dini pas nikah seusai kuliah, pdhl ak pke KB he. Maunya kerja, begini begitu. Tyt punya anak n ya, aku sendiri yg memilih jadi IRT. Mom war sering terjadi, aku sih ga masalah kalo yg nyinyir itu teman. Tp klo yg nyinyir keluarga. Sakittt banget. Tiap perempuan punya pilihan dan hormati pilihan itu. Thats the point. Thanks for sharing mba

  15. Salut aku mba. Karena aku lebih memilih tetap kerja dan ketemu anak malam saja. Kecuali weekend, full time sama Jasmine.
    Hidup adalah pilihan dan aku percaya, pilihan apapun itu adalah yang terbaik.

  16. Aku dulu pas tahu hamil sebenarnya juga belum siap2 bgt, banyak impian dan pengennya jalan2 dulu. Apalagi waktu itu masih kuliah… Tapi lama2 ikhlas juga sih… Aku kan kerja juga, sempat galau pengen jadi IRT malah

  17. Pelajaran buat saya, agar lebih berhati-hati jika mau mengomentari aktivitas orang. Secuek-cueknya orang, dalam kondisi tertentu, dinyinyirin tu sangat tidak enak.

    Makasih sharingnya ya Mak. Sangat bermanfaat.

  18. sy mah udah pasrah dengan segala keributan mom war
    memang beginilah jalan yg disediakan sm yang diatas buat saya
    jika ada yg merasa kebih baik krn berbeda pilihan dna kondisi dg saya
    woles aja sy nya…
    yg penting keep trying to do our best peran apapun yg diverikan kpd kita
    mom war ke laut ajaaah

  19. Setiap pilihan sepaket dengan bonusnya masing-masing. Saat mmebuat pilihan, kita sudah mempersiapkan diri, akan siap dengan apa pun yang muncul membersamai pilihan yang kita buat. HAnya saja, tak jarang orang di luar diri/keluarga kita yang dengan persepsinya membuat penilaian seakan-akan tahu banyak hal ttg apa yang kita jalani.

    Dan apapun penilaian orang lain, berusaha cool and calm down sebaik mungkin, ini akan jauh lebih menenangkan dan menjauhkan dari stress.

  20. Hadapi saja dengan senyuman.
    Saya sudah kenyang dengan masalah seperti ini, apalagi jika disangkutkan dengan ijazah S2 saya tetapi lebih memilih di rumah mengurus anak, suami dan rumah tangga

  21. Perdalam ilmu dan perluas pergaulan itu bener banget. Kalau saya krn domisili agak jauh dr keluarga dna tmn2 lama jdnya gak terlalu terpengaruh. Meski kdng jg ada mikirinnya sih hehe #lhagimanasih 😀

  22. Perbedaan yang kita miliki malah sebenarnya bisa menjadi alasan pertemanan yang baik. Saling belajar, saling sharing tentang kemuliaan peran sebagai ibu apapun yang dikerjakannya, malah lebih baik ya mba daripada sibuk menjelek-jelekkan perempuan yang lain.

  23. Setuju banget nih… secara kondisi setiap perempuan dan keluarganya kan gak sama. Jadi ya bagaimana me jalaninya ya gak harus sama juga.. Tetep syemangad pokoknya.. hehe

Leave a Reply to Aswinda Utari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top