Story HikmahNisa

Jangan Salahkan Perbedaan (Catatan Pernikahan)

Assalamualaikum,

Hampir semua cerita cinta baik dongeng ataupun film menggambarkan pernikahan merupakan akhir dari perjalanan cinta. Banyak pasangan muda menganggap pernikahan adalah gerbang kebahagiaan, pernikahan adalah akhir dari kisah cinta yang indah. Maka tak heran para pasangan muda berlomba ingin segera masuk ke dunia pernikahan.

Padahal pernikahan sungguh tak sesederhana itu. Pernikahan awal dari kebahagiaan itu benar, namun pernikahan bukan akhir dari perjalanan. Bahkan pernikahan adalah awal dari perjalanan memasuki dunia baru. Dunia yang dimana kita harus mampu berproses, terus beradaptasi, terus belajar, sehingga cinta yang dirasakan oleh suami-istri tidak akan hilang bahkan bisa bertambah kuat dan mendalam.

Saya pernah membahas mengenai ujian di tahun-tahun awal pernikahan, salah satunya adalah beradaptasi dengan kebiasaan dan kepribadian pasangan, selengkapnya bisa baca disini.

Kemampuan Adaptasi Sangat Penting

Tahun-tahun awal pernikahan tahun yang indah bagi pasangan yang baru menikah juga tahun yang mengagetkan. Tak heran beberapa pasangan memilih memutuskan menyudahi pernikahannya yang masih seumur jagung, salah satu alasannya karena ‘ketidakcocokan’.

Jangan sampai kayak gini yaa gengs 😭

Banyak yang kaget karena melihat sifat dasar, karakter dan kebiasaan diri dengan pasangan yang berbeda, bahkan jauh berbeda. Perbedaan ini jelas karena lahir dari orang tua berbeda, kebiasaan keluarga yang berbeda, latar belakang pendidikan berbeda, pergaulan berbeda. Apakah harus memaksakan untuk menjadi sama? Tentu tidak bisa, yang kita bisa lakukan adalah beradaptasi.

Dalam proses adaptasi ini tentu tidak mudah, satu sama lain harus melebur ego yang ada dalam diri akan ke-idealisme-an yang sudah ada di benak masing-masing tentang pasangan dan mencoba memahami diri pasangan saat ini. Tahun-tahun awal pernikahan skill adaptasi kita akan sangat diujikan.

Ketidakmampuan beradaptasi dengan baik dapat membuat persoalan yang sebenarnya sepele menjadi sangat besar. Sehingga membuat keretakan dalam rumah tangga.

Perubahan Akan Terus Terjadi

Dulu, saya berpikir bahwa memahami pasangan cukup sekali. Maksudnya, setelah berhasil beradaptasi dan memahaminya saya sudah sukses dan tidak perlu beradaptasi lagi dengan diri pasangan. Dengan kata lain saya berpikir individu itu akan statis, pasangan saya tidak akan berubah lagi sifat, sikap dan karakternya. Ternyata saya salah besar.

Saya pernah membaca buku Wonderfull Family karya Bapak Cahyadi Takariawan, dan disinilah awal mula saya menyadari bahwa pemikiran saya salah selama ini. Beliau memaparkan bahwa perubahan pada pasangan anda dan diri anda akan terus terjadi. Dalam arti proses adaptasi dengan pasangan ini akan terus kita lakukan.

Setiap individu itu dinamis, artinya bisa berubah sesuai pengalaman, pergaulan, ilmu dan lain sebagainya. Banyak dari kita kehilangan ‘peta’ pasangan kita sendiri karena menganggap ia sama dengan 10 tahun lalu (misalnya). Padahal individu akan mengalami banyak perubahan dalam jangka waktu 10 tahun tersebut. Kehilangan ‘peta’ pasangan ini salah satunya karena menganggap pasangan tidak akan berubah lagi dan komunikasi suami istri tidak lancar atau tidak produktif.

Perbedaan untuk Saling Memahami

Jadi jangan lagi mengutuk perbedaan, jangan lagi menyalahkan perbedaan karena perbedaan akan terus ada, akan terus hadir dalam kehidupan rumah tangga, dan akan terus menuntut kita untuk memilih. Memilih perbedaan sebagai sarana saling meninggikan ego atau malah memilih perbedaan sebagai sarana saling memahami.

Dulu saya sangat suka sambal, memang sudah kebiasaan dan budaya keluarga besar tak afdol kalau makan belum pakai sambal. Sedangkan suami saya tidak suka sambal, menurut saya pedas nya hanya sedikit sekali bisa membuat suami batuk-batuk karena tersedak.

Awal pernikahan sangat membuat saya serba salah, setiap saya masak suami selalu tak selera karena pedas. Saya akhirnya memasak tanpa pedas, namun nafsu makan saya yang harus dikorbankan. Perbedaan sepele yang membuat kami melebur ego.

Semakin lengket dengan perbedaan, bisa banget 😍.

Dengan proses waktu, kami semakin belajar, semakin beradaptasi lebih fleksibel. Kini saya bisa makan dengan nikmat tanpa sambal, dan suami selalu menanyakan ‘mana sambalnya?’ ketika saya masak. Hehe. Ya kami sekarang sudah berubah, tentu perubahan ini sangat kami syukuri, semakin memahami pasangan satu sama lain, saling melebur ego, semakin bahagia kami menjalaninya. Ya, awal mula dari perbedaan namun jadi keberkahan, tinggal bagaimana kita melihat sisi baik dalam sebuah kejadian.

Mempersiapkan Diri dalam Perubahan  

Banyak pasangan muda tidak bisa menerima perubahan karena ‘tidak siap’ dengan perbedaan. Bayangkan kita sedang berjalan, kita tahu bahwa jalan tersebut tidak rata, banyak lubang dan baru saja selesai turun hujan, sudah dipastikan jalan tersebut banyak genangan air. Sehingga ketika melewati jalan tersebut kita fokus dan berhati-hati, dari jauh sudah terlihat lubang kita sudah memikirkan akan menghindari lubang ke arah kanan atau kiri. Ketika kita tahu, kita akan siap dan lebih fleksibel dalam berjalan melewati lubang dan gedangan air tersebut.

Berbeda dengan yang belum tahu, akan kaget dan tidak siap dengan lubang dan genangan air selama perjalanan. “kalau tau begini, aku tidak akan lewat sini”, “aduh kalau tau becek gini, aku gak akan pakai sandal jepit”, dan keluhan-keluhan lainnya.

Sekarang ini sudah banyak ilmu pranikah bagi pasangan muda sebelum memasuki gerbang pernikahan. Mencari ilmu tentang pernikahan sebelum masuk ke dunia pernikahan sangat penting dalam mempersiapkan diri dalam berbagai macam perubahan setelah pernikahan. Salah satunya dengan memahami makna dari perbedaan dengan pasangan.

Jadi, perbedaan jangan dijadikan alasan dalam perpecahan 💔.

Senang Berbagi 😊

 

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

53 thoughts on “Jangan Salahkan Perbedaan (Catatan Pernikahan)

  1. Pernikahan adalah ritual sakral
    Dalam akad terjadi serah-terima diri (raga&nyawa) antara satu pemilik (ayah) ke pemilik lain (suami)
    Ketika diri diserahterimakan, bebaslah ayah dr semua kewajiban yg dipikulnya selama ini, tp ada pikulan lain yg sdh bersedia menerima, itulah suami.
    Sebagaimana ayah, suami akan mempertanggungjawabkan seluruh inci kehidupan istri dan anaknya dunia sampai akhirat.
    Jika ada seorang istri dan/atau mendapat hukuman atas kejahatan/dosa-nya, maka suami lah yang pertama mempertanggungjawabkan nya
    Ringankanlah beban suami di dunia, karena dia yg paling berat bebannya di akhirat 💖💝🙏

  2. Setuju jangan jadikan perbedaan menjadi alasan perpisahan. Namun sejatinya setiap pasangan harus sama-sama bertumbuh menjadi lebih baik antara satu dengan yang lain. Sehingga kualitas hubungan pun bisa meningkat

    Agar sudah tidak ada lagi perbedaan yang signifikan di kemudian hari.

  3. Pasti akan ada perbedaan dalam pernikahan, soalnya 2 orang beda gender disatukan dalam satu ikatan plus keluarga besar yg kadang ngga ada urusan ikut campur hahaha. Pernikahan itu menurut aku salah satu ladang belajar, belajar saling berbagi, saling mengerti perbedaan dan saling menerima. Pernikahan juga perlu dipupuk biar ngga kering kerontang, dan sekali lagi effort yg besar emang harus dilakukan agar dua org yg berada dalam satu pernikahan dapat seiring seirama 🙂

  4. Jadikan perbedaan untuk saling melengkapi. Mungkin gitu ya mba. Tapi bener sih, bahwa menikah itu bukan ending kayak di novel2 roman..yang adanya manis mlulu. Malah di awal2 itu, bnr2 butuh proses saling paham dan mengerti

  5. Ketika 1 + 1 harus jadi 1. Maka masing-masing harus ada kesediaan menghilangkan setengah aku (ego). Menikah itu beraaat yaaa ahahaha mesti ada ilmunya dan keikhlasan. 😁

  6. Setuju, Mba Hikmah. Pernikahan ialah awal kehidupan baru untuk menghabiskan sisa hidup kita.

    Awal pernikahan saya juga merasa kaget, “kok suami saya begini?” “Kok dia ini, itu, dst”

    Dan banyak lagi perbedaannya. Saya suka jalan-jalan, suami suka menghabiskan waktu di depan komputer, suami saya doyan pedes, saya yang enggak suka pedes. 😑😑

    Dan ya, mengurangi ego masing-masing dan saling memahami ialah salah satu cara terbaik untuk melewati perbedaan itu.

    1. Sama banget mba.. dan ini dirasakan semua pasangan pastinya.. lagi2 proses adaptasi dituntut yaa..

      Alhamdulillah dengan begitu kita belajar terus dengan pasangan menjadi lebih baik

  7. Masalah di pernikahan tuh ada aja. Namanya juga menyatukan 2 kepala yg berbeda. Tapi seru sih. Saya dan suamj jg banyak bedanya. Tapi asal mau saling menghargai, semua berjalan dengan baik

  8. Aku sama suami punya karakter yang beda banget mbak. Memang kalo mw saling egois ga akan selesai, harus ada yang mulai mengalah. Lama2 akan saling memahami dan menerima.

  9. Pernikahan ada yang bilang menyatukan perbedaan, mulai dari gender, suku yang beda, kebiasaan, karakter, macem-macem…harus saling memahami dan beradaptasi sama situasi yang ada, biar pernikahan tetap indah langgeng 🙂

  10. Setujuuuu..perbedaan jangan dijadikan alasan dalam perpecahan .
    Ngomongin sambal..aku ga bisa makan pedes, suami dan keluarga besarnya sukaaa bangets yang pedes. Kini kami beradaptasi saya jadi bisa pedas level medium dan suami jadi turun ke level itu , ga bisa lagi yang pedes sekali hihihi

  11. Iya banget. Semirip apa pun pasangan, pasti saja ada perbedaan. Yang penting, kita siap dengan apa pun. Dan selalu sadar bahwa perbedaan itu biasa. Jika cinta sudah besar, sebesar apa pun perbedaan, pasti buka menjadi halangan. Iya banget juga, sekali pun kita sudah merasa kenal, akan selalu saja ada sisi yang baru yang rasanya kita gak kenal dari pasangan. Dan perubahan juga bisa terus terjadi.

  12. Karena manusia adalah orang yang dinamis dan berubah-ubah setiap waktu dari sisi emosial dan spiritual, penting banget untuk selalu memahami dan berkomunikasi dengan baik kepada pasangan. Kadang setiap hari ada saja yang baru yang kita belum tahu dari pasangan meskipun sudah belasan tahun bersama.

  13. aku bookmark nih mbak tulisannya untuk bahan bacaanku pra nikah
    Emang ya, perbedaan bukan jadi perpecahan, tapi utk bahan evaluasi lebih baik lagi kedepannya yah mbak
    langgeng selalu dengan pasangannya yah mbak ^_^
    Terima kasih sharingnya mbak

  14. Dulu aku mikir nikah itu solusi banyak hal padahal mah bukan. Bisa dibilang nambah ujian karena kan dua keluarga, dua kepala pula. Jadi ya emang gak perlu nyalahin perbedaan karena memang begitu adanya kita

  15. Kalau aku berfikir, menikah itu karena kita berbeda dan untuk dipertemukan dengan pasangannya untuk saling melengkapi. Kadang banyak hal-hal yang mengejutkan saat menikah, hahahaaa…

    Kadang ku merasa “oh ini yang namanya saling melengkapi” dan aku beruntung sekali.

  16. Pernikahan memang jadi tempat kita belajar ya mbak, bener banget harus terus menyesuaikan sampai kapan pun . Semoga kita bisa selalu beradaptasi dan saling menyesuaikan sampai kapan pun

  17. Intinya emang itu sih, bisa saling melebur ego. Misalnya soal pedas tadi, bisa aja menghargai suami namun tetap makan pake sambal tapi disendirikan hehehe..
    Perbedaan itulah yang membuat kita selalu saling jatuh cinta pada pasangan.

  18. Itulah ya, diawal pernikahan seharusnya udah harus pada tau kalau mereka nanti harus adaptasi. Pasti akan kaget banget dengan banyaknya perbedaan di awal kalo gak siap. Insya allah kalo usaha terus dari kedua belah pihak bisa yaa.

  19. Wa’alaikumsalam
    Asli aku ngakak lihat video yang pertama.
    Kalau dicari perbedaan antara kita dan pasangan pasti gampang ketemunya. Banyak pula nanti ketemunya. Kalau nuruti perbedaan capek sendiri.

    Ini serunya pernikahan. Kayak mainan puzzle. Mencari cari menyatukan perbedaan-perbedaan biar bisa jadi suatu gambar yang Indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top