Story HikmahNisa

Ketika Dia Berjanji Berubah Setelah Menikah, Benarkah?

Assalamualaikum,

Apa kabar teman-teman singelillah? Masihkah setia menunggu si dia lewat doa? #cieh, hehe. Kali ini aku akan membahas pra-nikah, salah satu sudut pandang dalam memilih pasangan sehidup semati. Jadi tulisan ini bukan untuk mencari hanya sekedar pasangan hidup ya, tapi pasangan abadi sampai kehidupan selanjutnya juga, karena pemilihannya akan jelas beda.

‘Akankah dia berubah setelah menikah nanti?’, pernahkah terbesit di pertanyaan seperti itu dalam pikirmu?. Pertanyaan itu terlintas biasanya ketika kita tahu kebiasaan, sifat, sikap atau bahkan sudut pandang yang sepertinya ‘bukan gw banget’ atau yang memang kurang positif jika dilihat dari norma agama ataupun sosial.

Menjadi Pemilih Itu Harus!

‘Kamu terlalu pemilih sih’, menjadi kalimat familiar ya. Beberapa orang mungkin risih dan mulai mencap dirinya memang terlalu pemilih sehingga terjerembab pada kesendirian yang lama dan akhirnya mulai terbuka untuk tidak terlalu pemilih lagi. Menurutmu bagaimana?

Life is choice, dalam hidup kita selalu dihadapkan dengan pilihan, sampai se-simple urusan makan dan tidur setiap hari kita melewatinya dengan pilihan bukan?. Pagi mau sarapan nasi uduk atau bubur ya?, siang mau makan dengan rendang atau ayam ya?, malam mau pesen makan atau masak ya?. Kita mempertimbangkan dan mengambil keputusan dengan pilihan yang menurut kita paling cocok dan siap menanggung konsekuensinya.

Masa iya menikah tidak menjadi pemilih?, mencari partner sehidup semati lho ini. Penting sekali memilah-milih pasangan yang baik/tidak cocok/tidak untuk mu. Namun, ada yang memang pilihan urgensi artinya wajib menjadi syarat dan tidak boleh diganggu gugat, ada yang memang butuh fleksibilitas dari dirimu, karena memang tidak mungkin ada yang 100% cocok sesuai dengan keinginan kita.

Mana yang Boleh Ditawar dan Tidak?

‘Dia sudah berjanji ko setelah menikah akan merubah kebiasaan buruknya’.

Sebelumnya kita perlu menguatkan prinsip mana yang bisa ditawar mana yang tidak. Hampir semua setuju bahwa berubah itu mudah namun yang sulit adalah istiqomah dalam perubahan itu. Perlu disadarkan juga bahwa pernikahan bukanlah akhir kisah cinta bahagia seperti dalam dongeng, bahkan pernikahan adalah awal dari perjalanan cinta sesungguhnya. Selayaknya perjalanan, kita akan bertemu dengan berbagai macam hambatan dan tak sedikit bersumber dari perbedaan, yang berat adalah perbedaan tujuan dan prinsip dasar.

Baca juga : Happy To Be A Wife 

Kriteria ideal memilih pasangan sebenarnya sudah banyak diketahui bahkan sudah dapat kisi-kisi dari Rasulullah teladan kita bersama yaitu ; agamanya, keturunannya, hartanya dan parasnya. Rasul menekannya lihat Agamanya agar selamat dan berkah dalam rumah tangga yang dijalani kelak.

Jika boleh membuat list tipe yang tidak layak dipilih sekalipun dia berjanji akan berubah setelah menikah nanti, diantaranya ;

  • Tidak atau susah dalam melaksanakan Shalat
  • Kata-kata dan sikapnya kasar
  • Pemalas
  • Tidak bertanggung jawab
  • Dsb.

Kamu bisa membuat standar yang boleh ditawar/tidak, misalnya kamu tidak mau pasangan yang merokok, silahkan pilih apakah ini menjadi syarat wajib atau tidak?. Jika kamu mendapat si dia yang merokok dan berjanji akan berubah/ berhenti merokok setelah menikah. Artinya kamu harus siap juga ketika dia tidak atau sulit berhenti merokok nantinya. Loh ko gitu? Iya, karena yang perlu dipersiapkan adalah konsekuensi dari pilihan, tentu kamu tidak harus mempersiapkan ketika dia bisa berhenti merokok bukan?, Yang harus dipersiapkan hanya ketika dia sulit menepati janji untuk berubah. Kita sama-sama tahu bahwa merubah kebiasaan apalagi watak butuh effort yang tidak mudah.

Batas toleransi setiap orang berbeda, ada yang masih bisa menerima ada yang tidak bisa sama sekali, maka sesuaikan dengan dirimu.

Jangan Menikah Hanya Karena Berharap Dia Berubah

Aku pernah membaca sebuah tulisan dimana Ibu Anna Margaretha Dauhan, seorang psikolog dewasa menuturkan bahwa sebelum memutuskan menikah, sebaiknya menelaah dan membuat tujuan pernikahan yang tepat.

Tak sedikit orang memutuskan menikah karena percaya bahwa pasangannya akan berubah setelah menikah nanti, tanpa mempertimbangkan jika dia tidak berubah. Tentu Hal ini harus dipertimbangkan, akan selalu ada konsekuensi dalam setiap pilihan bukan?. Akankah siap menghabiskan hidup dengan pasangan apabila dia tidak berubah?.

Sayangnya, pasangan yang berubah setelah menikah ini kemungkinannya kecil. Bahkan setelah menikah, kebiasaan buruk atau sifat buruk pasangan justru terasa seperti semakin intens. Maka penting sekali mengenali sebaik-baiknya calon pasangan sebelum memutuskan menikah. Dan pikirkan, apakah dirimu bisa menerima segala hal yang dirasa kurang positif dari si dia.

Perbedaan Akan Selalu Ada

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya bahwa kita tidak akan mampu menemukan 100% seseorang yang cocok sesuai dengan keinginan kita. Setiap orang unik dan berbeda, bahkan kembar identik pun tetap memiliki perbedaan sifat, pandangan dan pendapat.

Baca juga : Jangan Salahkan Perbedaan (Catatan Pernikahan) 

Jika hanya sekedar berbeda sudut pandang atau pendapat yang tidak berpengaruh pada akidah dan prinsip dasar, jadikan lah bahan belajar bersama-sama nantinya. Dengan perbedaan, kekurangan dan kelebihan masing-masing akan membuat pasangan saling melengkapi, memahami dan mencintai satu sama lain.

Hampir semua orang setuju bahwa menjalankan pernikahan tidak mudah, tidak semua indah. Ini alasan mengapa perlunya mempersiapkan diri dalam pernikahan. Diluar itu semua, nikmat dan pahala menjalankan sebuah pernikahan memang luar biasa, jika semua atas RidhoNya.

Senang berbagi 💕

 

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

4 thoughts on “Ketika Dia Berjanji Berubah Setelah Menikah, Benarkah?

  1. betul, ada yang tidak bisa kita tolerir ya, dan biasanya sikap itu sulit berubah kecuali orangnya bener2 niat. seringkali berakhir putus asa karena ternyata tak berubah

  2. Kalau baca atau mendengar pengalaman teman2 yang sdh menikah sih, kebanyakan merubah kebiasaan itu adalah hal yg hampir mustahil. Yang ada malah semakin parah hehehe. Tapi kembali ke pernyataan mbak. Yg perlu dipersiapkan adalah apakah kita bs menoleransi hal tersebut. Aku juga pernah baca. Untuk memilih jodoh, karna tidak ada manusia yg sempurna, pilih pasangan dengan sifat2 yang masih bisa kita toleransi. Krn ini kan utk selamanya, bukan setahun 2 tahun saja.

  3. terimakasih mbak udah ngasih insight buat saya yang masih single. Berarti meskipun pasangan berjanji akan berubah, tapi kita juga harus siap juga faktanya setelah menikah dia ngga berubah

  4. Pada dasarnya kalau mau menikah harus siap dengan dia apa adanya, tanpa perubahan. Makanya jadi pemilih itu memang perlu. Kalau saya sih, yang big no-no adalah yang ringan tangan. Wah, kalau hobi gebrak-gebrak atau suka mukul, mendingan menjauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top