Story HikmahNisa

Menepati Janji pada Diri Sendiri

Assalamualaikum,

Hi sahabat, ada janji apa dirimu hari ini? Adakah janji terhadap dirimu sendiri?. Aku teringat jawaban seorang teman ketika aku bertanya bagaimana tips dia dapat konsisten menulis, jawabannya ngena sekali “tidak ada tips khusus, hanya menepati janji pada diri sendiri saja”.

Seketika aku merasa bahwa banyak janji yang aku buat pada diri lalu mengingkarinya, membuat lagi janji, mengingkarinya kembali. Aku termasuk orang yang membuat janji tak tanggung-tanggung, membuatnya pertahun, perbulan bahkan perhari dalam bullet journal-ku. Ya, aku memang semangat merencanakan namun tidak sesemangat ketika menjalaninya. Pernahkah kamu mengalaminya juga?

Perlukah Membuat Janji pada Diri?

Kamu pernah mendengar meme tentang ‘dietnya besok aja lagi’?, meme tersebut salah satu dari sekian banyak orang berjanji pada diri namun ia mengingkarinya kembali, ia berjanji lagi, kembali mengingkarinya lagi. Kalau seperti itu, perlulah membuat janji pada diri sendiri?.

Walau rencana dan janji yang dibuat kembali tidak di tepati, namun aku tidak pernah berhenti berencana dan membuat janji pada diri. Pernah terfikir, untuk apa dibuat? Toh akan kembali berpaling pada komitmen yang dibuat sendiri.

Namun ketika tidak merencanakan perubahan, maka matilah kepercayaan pada diri untuk bisa berubah lebih baik, membuat sebuah rencana dan janji saja masih sering lalai, apalagi tidak membuat rencana sama sekali? Yakinkah itu akan membuat diri lebih baik?. Dengan berencana dan berjanji bukankah kita memiliki sebuah harapan terhadap diri kita sendiri? Bukankah artinya kita ingin menjadi pribadi lebih baik?.

Maka aku putuskan untuk tidak berhenti berjanji, namun aku ubah diri untuk bisa menepati janji sendiri.

Bagaimana Cara Menepati Janji Diri?

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan apa sebenarnya yang harus dilakukan agar tidak kembali mangkir dari janji yang dibuat?

Cari Motif yang Kuat

Seseorang akan terdorong melakukan sesuatu perilaku ketika memiliki motif atau alasan mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Semakin kuat motif semakin kuat pula dorongan untuk melakukan hal tersebut, terlebih apabila motif tersebut berhubungan dengan kebutuhan seseorang. Misalnya, ia bekerja tanpa libur motif yang mendasarinya karena ia tulang punggung keluarga, harus mencari nafkah tanpa tapi, jika tidak apa yang terjadi? Bisa disimpulkan sendiri.

Penting membuat motif yang kuat, kadang kita harus berfikir mendalam sampai tidak ada kata ‘tapi’.

Misalnya, aku berencana akan belajar TPA dan Toefl 1 jam setiap hari alasan yang mendasarinya karena ingin lulus masuk tes studi magister profesi awal tahun depan. Percakapan diri untuk menguatkan motif yang bisa dilakukan seperti :

‘Keinginan untuk lulus masuk tes juga harus kuat, alasan yang mendasarinya apa?’

‘Karena memang sudah cita-cita sejak awal untuk menjadi psikolog’.

Lalu berfikir mendalam lah,

Apa yang akan terjadi ketika tidak menepati janji belajar 1 jam setiap hari tersebut?’

‘mungkin aku tidak akan lulus lagi, (karena sudah 2 kali pengalaman tes)’,

‘Jika tidak lulus lagi?’

‘Mungkin tahun-tahun selanjutnya akan semakin sulit untuk studi karena situasi dan kondisi salah satunya umurku semakin bertambah dan ada rencana lainnya untuk memiliki anak ke-2’.

‘Akhirnya apa?’

‘Mungkin aku akan kehilangan kesempatan untuk mencapai cita-citaku’

‘Relakah?’

‘Tidak’

‘Jadi bagaimana?’

‘Aku harus komitmen pada diri untuk belajar agar lulus tes’.

Terkadang kita memang harus memikirkan kondisi terburuk untuk mengupayakan yang terbaik.

Dimulai dengan yang Kamu Sukai

Pernah juga aku membaca sebuah tulisan dari seorang blogger yang dibilang sudah profesional, tulisan tips bagaimana bisa konsisten menulis setiap hari. Dia bertutur jika memang yang kamu lakukan itu kamu sukai, sesibuk apapun kamu pasti akan menyempatkan waktu untuk melakukan hal tersebut, karena hal itu kamu sukai. Jika memang tidak suka, ya sudah jangan memaksakan untuk menulis apalagi setiap hari, LoL.

Tapi its true, ketika mengerjakan yang disukai akan jauh lebih ringan untuk bisa konsisten dibanding sesuatu yang tidak kita sukai. Maka mulailah dengan yang kamu sukai.

Takar Sesuai Kemampuanmu

Tidak memulai terjun kembali ke dunia menulis dan berkenalan dengan blogging, awalnya sangat tidak terjadwal, sesuka hati saja menulisnya. Lama kelamaan aku membuat janji pada diri setidaknya seminggu 2 kali kalau menulis blog, tidak langsung setiap hari. Ketika dirasa sudah mampu stabil dengan pola tersebut, aku menantang diri untuk memberi lebih sehingga sekarang berkomitmen untuk menulis senin sampai dengan jumat.

Penting diri mengukur kemampuan,

Jangan terlalu memaksakan mengambil beban berat jika yang ringan pun kamu belum tentu mampu menepatinya.

Fokuslah Pada Dirimu

Fokus sering terpecah karena terlalu sering melihat pencapaian orang lain. Benar, tidak salah melihat pencapaian orang lain sebagai salah satu bahan memotivasi diri tapi janganlah terlalu sering, cukup sesekali mengambil hikmah yang bisa ditiru selebihnya kembali fokus dengan diri sendiri.

Seringnya kita terbuai dengan ‘terlalu’ melihat orang lain sampai hilangnya kefokusan pada diri sendiri.


Tulisan ini utamanya menjadi pengingat diriku sendiri, untuk bisa menepati pada janji yang susah aku buat sendiri. Semoga kamu pun begitu ya 💕

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top