Story HikmahNisa

Merasa Tahu Berujung Malu

Assalamualaikum,

Hi sahabat, kali ini mau menceritakan kejadian yang membuatku merasa ‘tahu’ namun di akhir malah merasa ‘malu’. Beberapa minggu lalu aku ada event di daerah Jakarta, jika dekat aku selalu mengandalkan naik ojek online karena tidak terlalu menguasai jalanan Jakarta, malah dibilang benar-benar masih meraba-raba daerah Jakarta.

Ketika akan pulang, handphone lowbat tidak membawa powerbank dan belum memesan ojek online. Setengah panik aku segera membuka aplikasi ojek online untuk memesan, sambil bertanya pada teman kalau kita berada di pintu mana, karena ketika itu event berlangsung di gedung besar tempat perkantoran dan pertemuan, sehingga pintu masuk/keluar tidak hanya satu. Sudah memastikan benar, aku langsung memesan.

Tak lama driver ojol menelefon, dan bertanya sebenarnya posisi aku berada dimana? Aku berkata sesuai titik saja pak, karena jujur aku tidak paham daerah sana. Driver ojol menelefon berulang-ulang memastikan posisiku, aku merasa sudah menjelaskan semaksimal yang aku tahu. Namun driver seperti masih belum paham, aku merasa dia berbicara berputar-putar tidak to the point.

“Aduh gimana sih, mana ini hp lowbat banget sebentar lagi mati, driver belum ada dan masih terus nelpon” kataku pada teman yang sudah menemukan driver ojolnya.

Temanku menunggu sambil berkata “bang bentar ya” pada driver ojol pesanannya.

“Apa aku cancel aja ya?, soalnya kayak yang gak ngerti gitu ojolnya dan kayaknya dia mau gak mau gitu, tadi bilang ‘gak apa-apa saya muter? Mau nunggu agak lama mbaknya?’ Gitu  kayak yang gak mau muter” kataku setengah kesal.

“Iya udah cancel aja, nanti pesan dari hpku”, jawab temanku.

Ketika akan meng-cancel, driver ojol men-chat “saya otw muter”. Seketika aku berhenti mengklik cancel dan memutuskan menunggu, aku meminta temanku untuk berangkat duluan, kasian driver ojol-nya sudah menunggu.

Cukup lama menunggu, “mbak Hikmah” katanya sambil tersenyum, “iya” jawabku ketus. Aku menghampiri dan memakai helm lalu naik.

“Mbak gak tau daerah sini?” Tanya ojol

“Bukan masalah gak tau mas, saya pertama kali kesini”. Jawabku agak kesal

“Oh gt, tadi saya tunggu disini mba”. Sambil menunjuk pintu masuk yang jaraknya dekat dengan posisi aku menunggu tadi. Hanya saja posisi aku menunggu adalah pintu masuk mobil untuk parkir, dan posisi ojol menunggu adalah pintu masuk orang ke gedung. Jalanan disini satu arah, sehingga driver memang harus memutar balik untuk ke posisi aku.

Seketika aku malu, “mas kenapa gak minta saya jalan saja kalau sedekat ini? Jadi mas-nya gak usah muter”, intonasi melemah karena malu.

“Gak enak mba mintanya, tadi saya kasih kode tapi mbak nya seperti tidak paham, ya sudah tidak apa-apa saya muter tadi”. Jawab ojol dengan logat betawi-nya.

Saya terdiam cukup lama memikirkan ‘ko aku sok tahu banget sih, merasa benar dengan nada meninggi mengatakan bahwa driver ojolnya seperti tidak tahu jalan dan seperti mau tidak mau menerima orderan-ku’, padahal yang sebenarnya benar-benar tidak tahu situasi disana itu ya aku sendiri.

Aku pribadi malah memilih berprasangka buruk pada driver ojol pada saat itu, bahkan aku menyampaikan ke-suudzon-anku kepada teman, dan ternyata aku salah!. Ah, betapa malunya kalau driver ojol tahu bahwa tadi aku mengeluh, memikirkan yang tidak-tidak padanya, dia tidak mengetahuinya saja aku sudah dibuat malu dengan kelakuanku sendiri setelah tahu situasi/kondisi yang sebenarnya.


Sadarkah? Pada kenyataannya banyak dari kita benar-benar tidak tahu situasi dan kondisi yang ada pada diri kita sendiri. Hanya mampu mengeluh, menggerutu, dengan pembenaran yang hanya milik kita. “Seharusnya itu seperti ini!!”, dengan kesoktahuan kita merasa takdir Allah itu salah, dengan kesombongan kita merasa diri paling benar, padahal kita paling lemah, paling tidak tahu apa-apa.

Ah, dengan sesama manusia saja aku sudah dibuat malu, apalagi dengan-Nya. Ditambah, Allah pasti tahu isi hati dari diri-diri kita, entah berapa kali dan berapa banyak aku bersuudzon dengan ketetapan-Nya, entah berapa kali dan berapa banyak aku mengeluh karena ujian yang diberi-Nya. Padahal, aku tidak pernah tahu keadaan situasi dan kondisi diriku yang sebenarnya, sehingga aku pun tidak tahu mana yang terbaik untukku, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Boleh jadi yang Allah tetapkan memang yang terbaik untuk keadaanku saat ini.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Sudah jelas sekali, bahkan ayat ini sudah sangat familiar, namun pengaplikasiannya belum maksimal. Dari kejadian itu aku belajar,

Ke’sok’tahuan dapat membuat diri menganggap remeh orang lain, berburuk sangka pada orang lain, padahal kenyataannya diri ini jauh lebih hina dengan kesombongan tersebut.

Apa yang aku alami dalam hidup dengan semua dinamikanya adalah takdir Allah, itu adalah pilihan Allah, artinya sudah yang Terbaik untuk diriku, aku hanya perlu Ta’at dan Ridho, atas semua ketetapan-Nya 💕.

 

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top