Story HikmahNisa

Kesukaan Kita Berbeda, Harus Bagaimana?

Assalamualaikum,

Hai bu, apakah si kecil sudah tidur? Kalau begitu selamat menikmati waktu sendirimu, istirahatlah atau bisa lakukan sesuatu yang kamu suka. Alhamdulillah hari ini cukup lelah, mencoba keluar dari zona nyaman dirumah bersama Nada.

Jarang sekali aku keluar berdua dengan Nada dengan niat hanya untuk jalan-jalan. Aku termasuk tipe anak rumahan yang tidak biasa ‘ngebolang’, mengambil zona nyaman saja dirumah, tidak panas jadi gak pusing, ya kalau pun jalan paling banter ke mall atau ke toko buku, hehe.

Aku melihat Nada senang bermain diluar, bersosialisasi, berpetualang seperti ayahnya. Sehari-hari ya quantity time banyaknya denganku dibanding ayahnya karena kerja. Lalu aku menerka-nerka, Nada mungkin bosen dirumah, walau dirumah membuatku nyaman tapi belum tentu Nada.

Aku pernah mendengar penjelasan dari seorang psikolog anak dalam sebuah talkshow yang mengatakan bahwa “Jika orang tua tidak suka olahraga, tetap harus kenalkan olahraga pada anak” intinya adalah apa yang kita tidak suka belum tentu anak tidak suka, bisa jadi malah minat bakatnya berada disana.

Maka salah satu cara menstimulasi anak adalah dengan mengenalkan berbagai macam kegiatan dan kebiasaan positif, walau mungkin kita tidak suka.

Dasar itulah yang membuat aku mencoba keluar dari zona nyaman, selama itu positif mengapa aku harus takut mencobanya,

Ah.. bisa jadi bukan persoalan takut melainkan malas.

Bukankah aku tidak ingin menjadi orang tua yang memaksakan kesukaan dan keinginanku pada Nada? Kalau memang begitu, bantulah ia mencari minat dan potensinya!

Ya, berawal dari banyak dari orang tua yang memaksakan keinginannya sama dengan keinginan anak, memaksakan kesukaannya dengan kesukaan anak, padahal boleh jadi berbeda. Berapa banyak yang seperti itu disekitarku, mungkin juga ada disekitarmu, sebagian besar dari mereka hanya mengikuti kata orang tua bukan kata hatinya sehingga melakukannya bukan dari hati dan berujung buntung ditengah jalan. Benar, tidak semua begitu, ada juga yang sukses dengan ‘bukan pilihannya’ tapi lebih sedikit dan kita tidak yakin apakah dia happy menjalani proses nya selama ini.

‘Anak tidak tahu yang terbaik untuk dirinya’, benar! Oleh karenanya penting bagi orang tua untuk membuat mereka berproses menjadi dewasa, bukan secara angka saja namun yang paling penting dewasa pemikirannya mencangkup pengambilan keputusan, problem solving, dsb.

Caranya? Beri stimulasi optimal dengan menggunakan berbagai macam kegiatan sejak dini, observasi mana yang terlihat membuatnya sangat antusias dan ingin melakukannya berulang-ulang. Ada yang dia tidak antusias namun penting, orang tua bisa membuat cara bermain dan belajarnya menjadi menyenangkan untuk anak. Kita tahu bahwa ada beberapa tipe dominan belajar seseorang seperti ; visual, audio, kinestetik,  bisa arahkan sesuai karakter anak.

Ah benar, ini tidak mudah, sebagai orang tua mau tak mau kita harus terus belajar, mengupayakan terbaik untuk anak-anak. Mengapa begitu? Karena mereka amanah luar biasa dariNya. Dititipi amanah oleh manusia saja inginnya melakukan yang terbaik, apalagi dititipi amanah oleh yang Maha Kuasa. Benar, anak-anak kita adalah syurga neraka kita, mohon bimbingan-Nya terus agar kita dimampukan mendidik juga mendampingi anak-anak menjadi pengejar Akhirat dan pengenggam dunia. Aamiin yra.

 

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top