Story HikmahNisa

Memantaskan Diri

Assalamualaikum,

Sudah beberapa hari absen menulis tulisan organik sesuai jadwal. Mohon maaf atas kendala satu dan lain hal, terutama pada peran prioritas sebagai ibu membersamai Qatrunada yang sekitar 1 minggu ini mengalami sakit. Ya seperti yang tertera di bio beberapa medsos-ku jika kegiatan utama adalah full time mom dan sisanya baru freelance writer. Sehingga aku lebih mengutamakan peran utama, namun sejatinya itu bukan alasan jika memang aku mampu mengatur waktu lebih baik. Ya ini kembali pada kesalahan diri sendiri.

Beberapa hari tidak menulis organik, banyak sekali pandangan, ide yang berjalan-jalan hanya di pikiran. Huh, rasanya menyesal sekali ketika hal tersebut harus menguap begitu saja, namun sesal memang tak guna jika tidak ada perbaikan setelahnya.

Sahabat, apakah dirimu memiliki sebuah impian? Cita dan harapan untuk pengembangan dirimu?. Entah itu berharap mendapat posisi lebih baik dalam pekerjaan, bercita ingin melanjutkan studi misalnya atau apapun itu. Jika ada, pernahkah berfikir dan bertanya pada diri “apakah aku mampu?”.

Jika iya, berarti kita sama, aku pun merasakannya juga. Ada perasaan ragu terhadap diri bisa mencapainya, ada perasaan khawatir apakah aku bisa?. Namun jika hanya diragukan, dikhawatirkan tidak ada yang dapat kita dapat selain rasa rendah diri, bukankah begitu?. Aku merasa perasaan ragu dan khawatir layak hadir untuk membantu mengoptimalkan ikhtiar diri.

Buat Dirimu Pantas!

Ya, alih-alih merasa rendah diri dengan keraguan dan kekhawatiran akan kah diri mampu mencapai cita dan harapan tersebut, mengapa tidak memanfaatkan rasa tersebut untuk mengoptimalkan diri sehingga Allah merasa kita mampu dan pantas mencapainya?.

Jadikan acuan untuk berproses ikhtiar dalam mencapainya, jika tidak tau harus mulai dari mana bisa dari sesimple memperbaiki kebiasaan buruk yang sehari-hari kita anggap sepele, semisal tidak tidur lagi setelah subuh atau tidak kembali menyia-nyiakan waktu. Mengupayakan bahwa kita pantas mendapatkannya.

Ya, rasanya sangat sulit apalagi mengubah kebiasaan yang sudah sedari dulu menjadi pola hidup, namun jika memang buruk mengapa tidak mencoba mengupayakan menjadi diri yang lebih baik? Ya mari mencoba.

Tentunya perlu juga membuat strategi agar cita dan harapan terwujud tidak hanya menjadi angan semata. Membuatnya menjadi ikhtiar yang lebih spesifik, mari mencoba berupaya membuat rencana strategi mulai saat ini. Setelahnya kekonsistenan akan diuji dan ini yang paling sulit.

Baca juga : Menepati Janji Pada Diri Sendiri

Ingin rasanya setiap saat selalu bersemangat namun mungkinkah?

Baca juga : Diri Selalu ‘On Fire’ Bisakah?

Jika cita dan harapan masih seputar duniawi, namun jangan sampai terlepas mengaitkannya dengan akhirat. Memantaskan diri bukan hanya urusan duniawi, utamanya malah bagaimana ikhtiar memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Sejatinya semua ada di genggamanNya sehingga bagaimana usaha membujuk rayu Rabb kita agar mencintai diri kita sebagai sebaik-baik hamba dan pada tujuan akhirnya Allah menilai bahwa kita pantas mendapatkannya.

Tentu! Bukan bujuk rayu palsu, tidak pantas tidak layak dan sangat mustahil kita menipu Rabb Tuhan Semesta Alam. Jadilah sebenar-benar hamba yang dengan tulus meminta, berharap hanya pada Allah yang Maha Bijaksana. Jadikan cita dan harapan kita tidak hanya sebatas dunia namun juga membawa pada kemuliaan akhirat.

Pada Akhirnya…

Pada akhirnya setelah berupaya memantaskan diri dengan segenap ikhtiar dan doa yang dilakukan terus dan terus, kita akan mengetahui layak atau tidaknya diri mencapai cita dan harapan tersebut.

Jika tercapai, berarti kita layak mendapatkannya dan mampu menjalaninya, sebaliknya jika ternyata tidak tercapai, maka yakinlah posisi tersebut memang belum mampu kita emban. Bukankah Allah selalu menempatkan hambaNya pada posisi yang ia mampu mengembannya?.

“Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kemampuannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS.al-Mukminun:62)

Cita dan harapan yang kita adalah amanah, amanah berarti didalamnya terdapat ujian juga. Kita kembali dilatih keimanan pada rukun iman ke-6 yaitu iman kepada Qada dan Qadar.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)


Jadi sekarang ini, mari kita buat strategi memantaskan diri dan mengerjakannya untuk mendapatkan cita dan harapan kita dimasa mendatang. Semangat 💪

 

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

14 thoughts on “Memantaskan Diri

  1. Saya setuju.
    Katanya, Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan. Maka, sudah semestinya kita memantaskan diri agar pantas menerima yang lebih baik lagi.

  2. based on experience (ceileeee..) memantaskan diri ini adalah pe er terbesar buat manusia.
    kita terbiasa ada di budaya “pemalu” alih alih malu maluin, tapi akhirnya jadi membuat malu

    pada saat di Riway, aku pun baru sadar dan bisa mengubah cara berpakaian. Karena apa? karena yang kuhadapi di sekeliling adalah orang orang pebisnis dengan setelan jas hitam yang mahal, sepatu mengkilap, dengan telpon genggam canggih dan tas branded

    karena lingkungan seperti itu,
    akhirnya aku jadi terbiasa dan mengubah total tampilan. Biar ga lama ada di dalam aura “mahal” tersebut, aku bersyukuuurrrr sekali bisa merasakannya- ke depan, memang mengubah diri jadi pantas itu HARUS.

  3. Setuju, Mba. Intinya memang kita harus berusaha dulu mencoba meraih apa yg kita inginkan. Lalu sisany pasrah dan berdoa. Kalau Allah tidak ijinkan, maka yg kita inginkan tak pantas buat kita. Begitupun sebaliknya. ^_^

  4. Siap semangat pokoknya lah yaaa… memang kita harus selalu introspeksi diri.. sudah pantaskah? sudah waktunya kah? Dan kadang emang gak mudah utk menerima kenyataan kalo kita tyt belum pantas hehe

  5. saya hampir jarang bertanya pada diri sindiri “apa kah aku mampu?” karena pertanyaan seperti ini bentuk komunikasi intrapersonal yang negatif. saya selalu bilang, saya mampu, mohon dipermudah jalannya Gusti.

  6. Mari kita bersemangat dan semakin mencintai diri kita. Btw, saya ga pernah nanya ke diri saya apakah saya mampu. Karena kalau diamanahkan seseuatu dan saya merasa saya bisa, yaudah lanjut. Hehehe.

  7. Membaca tulisan ini di penghujung tahun membuatku semakin bersemangat membuat rencana tahun depan. Salah satunya adalah lebih memantaskan diri. Bismillah, bisa!

Leave a Reply to Muyassaroh Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top