Story HikmahNisa

Saling Menguatkan bukan Saling Menjatuhkan

Assalamualaikum,

Bagi pasangan muda yang baru melewati tahun-tahun awal pernikahan, proses adaptasi yang paling besar dirasakan. Tentunya adaptasi dalam memulai hidup baru dengan peran baru yang dijalani. Adaptasi dalam pernikahan tidaklah mudah, sehingga prosesnya pun tidak sebentar, why?.

Ketika menikah perubahan akan selalu terjadi, tidak berhenti, dinamika kehidupan benar-benar terasa dalam peran yang dijalankan setelah menikah. Masih meraba-raba peran sebagai istri/suami tak lama kemudian akan ada peran baru yang diemban yaitu pedan menjadi ibu/ayah. Setelah menikah, diri tidak lagi hanya memikirkan ‘aku’ ‘kamu’ namun pasti melebur menjadi ‘kita’ sehingga pemilihan keputusan lebih mengutamakan kepentingan bersama.

Proses memahami peran masing-masing dengan perubahan hidup sangat tidak mudah, aku merasa selama pernikahan 3 tahun ini, kami tidak pernah berhenti berubah, karena kondisi dan situasi di depan mata kami menuntut untuk kami berubah terus dan terus. Perubahan ini terkadang membuat kami sangat berat menerimanya.

Menerima Perubahan

Perubahan yang dirasakan sangat banyak dan dari segala arah, perubahan peran, keputusan tempat tinggal, keluarga besar, keuangan, pekerjaan, dsb. Semua terjadi ketika setelah menikah. Perubahan-perubahan yang harus aku terima ini merupakan perubahan berat dan butuh effort besar juga waktu yang cukup lama untuk proses adaptasi itu sendiri. Apakah kamu mengalaminya juga?

Dinamika hidup memang sangat terasa dalam pernikahan, aku tidak lagi memikirkan diriku dan egoku sendiri, namun daripadanya aku harus memikirkan kebahagiaan bersama, untuk apa aku bahagia namun pasangan dan anakku tersakiti atas pilihan yang aku buat sendiri?, bukankah ketika kita saling menyayangi kita ingin membahagiakan satu sama lain?.

Proses adaptasi dimulai ketika kita mulai menerima perubahan yang hadir dalam hidup, setelahnya kita dapat membuat strategi bersama untuk beradaptasi bersama pula.

Ini Tidak Mudah

Ketika proses adaptasi itu berlangsung, tak jarang aku merasa lelah “sampai kapan seperti ini? dengan kondisi begini?” tak jarang ketika di titik terjenuh, terlelah tidak mampu berpikir logis akhirnya mengalahkan pasangan. Padahal sungguh bukan salahnya, kondisi dan situasi lah yang memang harus seperti ini.

Aku masih jauh dari kata istri shalehah, seringkali menyudutkan pasangan atas situasi dan kondisi yang bukan salahnya, namun seakan aku membuat itu menjadi salahnya. Dimana hati nuraniku saat itu? Apakah akun sedang dalam persaingan? Sedang dalam perang? Sehingga aku merasa menang dan paling benar?. Astagfirullah, Ampuni Ya Rabb.

Karena ketidaksempurnaanku, karena aku terlalu hina, terlalu lemah, diuji kesabaran yang hanya segini saja aku sudah mencari celah kesalahan orang lain dibandingkan menyalahkan diriku sendiri. Lebih parahnya aku mencari kesalahan pasanganku, bertambah lah berat bebannya. Bukankah aku ini sedang menjalankan peran seorang istri yang seharusnya menenangkan?.

Tidak sedikit juga para suami yang menambah beban istrinya dengan menyalahkan ketika anaknya berbuat salah, nilai ujian kecil, anak terjatuh, mereka ‘merasa’ istrinya tidak mendidik anak dengan benar.

Saling menyalahkan, merasa diri benar tidak memberi nilai apa-apa selain membuat jarak semakin jauh. Jelas! mereka saling menjatuhkan bukan menguatkan.

Mari Bangun Bersama (lagi)

Poses menghadapi perubahan di segala sisi dalam rumah tangga, beberapa kali aku terjatuh, maka aku butuh genggaman tangan pasanganku untuk kembali bangun dan jalan bersama lagi. Dan beberapa kali pula aku tidak memberi genggaman tanganku pada pasangan karena keegoisan dan kesombongan diri, malah aku memberinya tambahan beban. Ah… aku mengatakan cinta padanya namun sikapku tidak mencerminkan itu.

Menyalahkan situasi dan kondisi yang ada juga bukan keputusan bijak, karena banyaknya kita menjadi lebih dewasa dan kuat karena situasi dan kondisi sulit bukan?

Kami terus beradaptasi dengan dinamika dalam rumah tangga kami, dan yang kami butuhkan adalah menggenggam tangan satu sama lain, bangun bersama, berjalan bersama, saling menguatkan!. Tentu akan jauh lebih mudah juga lebih indah untuk kami melewati ujian cinta dari-Nya 💕

About Hikmahnisa.com

Hallo, senang berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana menikmati peran menjadi seorang anak, istri dan ibu. Blog ini akan berisikan tulisan seputar parenting, merriage and family. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tingalkan komentar yang baik. Contact : hikmahkhaerunnisa@gmail.com

4 thoughts on “Saling Menguatkan bukan Saling Menjatuhkan

  1. Memutuskan untuk menikah memang bukan hal yang mudah ya kak. Menyatukan dua pemikiran yang berbeda, meleburkan diri dalam satu keluarga yang asing dana sebagainya. Beruntunglah yang sudah mendapat kesempatan itu. Karena ada kala, seorang yang sudah memutuskan menikah, namun belum dipertemukan dengan jodohnya.

  2. aku kadang jg msh egois thd suami. walo ujung2nya suka nyesel, apalagi kalo suami tipe pengalah. berulang kali suka remind diri sendiri utk mengubah beberapa tingkah laku kekanakan, supaya pernikaham kami semakin kuat ke depannya :). banyaaak hal yang mana kami berdua hrs saling support, ngalahin ego masing2. trutama soal sifat yg bertolak belakang banget. tp aku slalu yakinin dlm hati, perbedaan ini yg sbnrnya bikin hidup kami berdua jd lbh berwarna. ga kebayang kalo sifat dan karakter kami sama, mungkin yg ada rasa bosan :D.

Leave a Reply to Yuni Bint Saniro Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll To Top