Story HikmahNisa

Pentingnya Membuat Kenangan Masa Kecil yang Bahagia

Assalamualaikum,

Berbicara kenangan masa kecil, merupakan salah satu hal yang penting. Masa kecil harus memiliki kenangan yang indah, penuh kasih sayang orangtua dan kebahagiaan. Yup, karena dari pengalaman yang didapatkan di masa kecil membentuk sifat dan perilaku saat ini (dewasa). Masa golden age ada di usia 0-5 tahun awal kehidupan seseorang. Dikatakan golden age, ketika masa itu semua aspek sedang berkembang pesat termasuk otak, seperti spons mudah menyerap dan merekam, rekam tersebut akan masuk ke alam bawah sadar, tanpa kita sadar membentuk sifat dan perilaku dewasa.

Read more

Pekerjaan Rumah Membantu Mencerdaskan Anak

Assalamualaikum,

Berbicara pekerjaan rumah, yang ada di benak saya adalah bahwa ini tidak akan pernah berakhir, never ending, haha. Apalagi kalau dirumah ada anak yang lagi meujeuhna (dalam bahasa sunda). Klop sudah, yang pasti akan terjadi adalah beresin, acak-acakin, beresin lagi, acak-acakin lagi, beresin lagi, acak-acakin lagi, begitu seterusnya sampai negara api menyerang, haha.

Read more

5 Film Rekomendasi Bagi Kamu yang Peduli Mental Illnes

Assalamualaikum,

Saya bukan tipe penggila film, yang ketika ada film terbaru langsung pesan tiket bioskop dan tidak boleh melewatkan film tersebut. Saya suka menonton namun tidak suka juga jika terlalu sering, ya sedang-sedang saja lah ya, hehe. Apalagi setelah punya anak, belum dapat kesempatan lagi nonton film ke bioskop, terakhir pas hamil dan hamil muda, lama banget kan 😅.

Read more

Masalah Perilaku Makan pada Anak dan Cara Mengatasinya

Assalamualaikum,

Menjadi seorang ibu terutama ibu baru seperti saya, akan selalu menghadapi tantangan yang berkaitan dengan tumbuh kembang si kecil. Hal ini menuntut orang tua terutama seorang ibu untuk terus belajar dan mengupgrade ilmu tentang pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Salah satunya tentang proses makan si kecil.

Dulu sebelum memiliki anak, saya tak pernah terpikir bahwa ternyata proses makan anak akan serumit ini. Ternyata banyak sekali tugas orangtua dalam mengenalkan makan yang menyenangkan pada anak dan ini tidak selalu mulus.

Alhamdulillah, Qatrunada dari usia MPASI 6 bulan sampai saat ini 22 bulan tidak memiliki masalah makan. Hanya saja sesekali ia makannya sedikit, tidak nafsu makan atau hanya ingin ngemil saja, biasanya ini berlangsung ketika ia sedang kurang sehat dan alhamdulillah tidak pernah berlangsung lama. Ketika Nada tidak nafsu makan karena kondisi sakit, saya bingung dan khawatir. Mencoba berbagai cara, berbagai menu agar ia kembali memiliki nafsu makan baik, namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa teman saya yang anaknya memiliki masalah makan seperti  susah makan, pilih-pilih makanan, porsi makan anak sedikit, alergi makanan, kesulitan meningkatkan tekstur, mereka sangat bingung juga khawatir dengan keadaan tersebut. Saya saja sangat khawatir dan kebingungan ketika Nada nafsu makannya berkurang, apalagi ibu yang memiliki anak yang mengalami masalah makan, wuih~~lap keringet 😥😅.

Read more

SEPENGGAL KISAH MENGHADAPI MAM WAR

Saya kembali menarik nafas panjang, menghapus air mata yang kembali mengalir. Merasa hidup saya sekarang direbut oleh bayi mungil ini. Perasaan bahagia, sedih dan tertekan, kini menjadi satu.

Sejak kuliah dulu saya aktif berkegiatan, beberapa organisasi dipegang, menjadi asisten dosen juga dijalani. Sebutlah saya tipe mahasiswi teladan, tugas harus tepat pada waktunya dan harus sebagus yang saya bisa. Ketika lulus, harus segara mendapat pekerjaan, tidak bisa berlama-lama dirumah dengan membuang waktu tak jelas. Saya sangat menjungung tinggi aturan juga norma dalam kehidupan.

Read more

OBAT OH OBAT

Assalamualaikum, kali ini saya ingin berbagi pengalaman dan tips agar anak mau minum obat tanpa dipaksa. Dulu saya sangat khawatir sekali apakah Nada akan seterusnya sulit minum obat sampai besar? Atau bahkan trauma minum obat?. Kekhawatiran saya ini berasalan, karena setiap Nada minum obat susahnya luar biasa, sudah mencoba berbagai macam cara, namun gagal, ujung-ujungnya saya kembali memaksa. Nada mengamuk meronta-ronta saya dekap dengan kuat, sampai ia tak mampu menolak, memasukan obat secara paksa ke mulutnya. Nada termasuk anak yang memiliki tenaga yang cukup kuat untuk seusianya menurut saya, sampai terkadang saya kewalahan memegangi Nada sendiri, jika tidak mampu saya minta tolong suami. Bahkan pernah suatu ketika Nada sakit bapil dan dokter menyarankan untuk Nebu, suami dan saya kewalahan memegangi Nada ketika Nebu. Sepanjang Nebu ia menangis meronta-ronta, berapa kali alat nebu lepas, saya dan suami sampai kewalahan memegangi Nada ketika itu. Huh 😥

Read more

Anak Berlatih Memilih

“Qatrunada makan yuk, ibu hari ini masak sayur bayem, tempe goreng dan ayam goreng. Nada mau makan sama apa?”, sambil saya gendong dan menunjuk menu makanan yang tersedia kepadanya.

“Mekan (maksudnya makan), yam (maksudnya ayam)” , terkadang jawabannya hanya menunjuk menu makanannya, karena Nada masih belum lancar berbicara.

“Oh, mau makan sama ayam nak?” , ia tersenyum terkadang tepuk tangan tanda bahwa setuju dengan menu makanan yang dipilihnya.

“Nada mau makan pakai tangan atau sendok?”, sambil saya tujukan tangan dan sendok kepadanya.

Ia diam tak menjawab ataupun menunjuk, mungkin ia bingung atau belum paham maksud ‘pakai tangan dan sendok itu apa’, kalau seperti ini tugas saya mengarahkannya.

“karena Nada makannya sama ayam goreng, jadi pakai tangan saja ya, biar lebih mudah makannya”

Lagi-lagi responnya tepuk tangan dengan senyuman tanda ia setuju dengan pilihan yang saya ajukan dengan penjelasannya. Jika ia memilih makan dengan sayur tentu saya tidak akan memberikan ia pilihan, akan langsung saya sediakan sendok untuknya.

“Nada mau ibu suapin atau makan sendiri?”

“Diyi (maksudnya sendiri)”

“Iya sok atuh, Nada makannya duduk, makan yang baik ya, yang habis”

Ia langsung makan dengan lahap dan hati senang, seringkali jika makan atas pilihannya sendiri makannya lebih lahap dan sering nambah, alhamdulillah.

Read more

Dukung Anak Memiliki Kecerdasan Menyeluruh (IQ, EQ dan SQ)

Kecerdasan seorang anak erat kaitannya dengan dukungan orang tua. Dukungan dalam arti orang tua bergerak aktif memfasilitasi, mendampingi, mendidik anak untuk memiliki dan meningkatkan kecerdasannya. Penting orang tua meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan hidup, hidup yang bermakna (Meaningful Life). Hidup yang bermakna adalah kebahagiaan dalam berbagi (pleasure in giving), lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman.

Putri kami, Qatrunada Hulwah Dawamah kini berusia 17 bulan, sudah menunjukan kecerdasan sesuai dengan tahap perkembangan usianya. Kami sebagai orang tua terus belajar untuk membantu meningkatkan kecerdasan anak, agar kecerdasannya menyeluruh ke semua bagian. Karena kecerdasan dikategorikan menjadi 3 bagian, yaitu ;

1. Kecerdasan Intelegensi (Intellectual Quotient)

Anak cerdas itu memiliki kemampuan untuk menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir, kemampuan bahasa, dll.

Qatrunada sudah bisa memilih buku sendiri, membuka-buka bukunya dan bercerita dengan bahasanya yang belum sempurna, meminta kami untuk membacakan buku untuknya. Anak cerdas itu cinta pada buku 😊. Ia sudah bisa menunjuk anggota badan, mengenal beberapa hewan, sayuran dan juga buah-buahan. Ia sudah mengerti bahasa perintah yang sederhana, seperti; “tolong ambilkan tisu” “tolong buang sampah ke tempatnya”, dsb. Anak cerdas itu cepat tangap.

2. Kecerdasan Emosi (Emotional Intellegence)

Anak cerdas itu memiliki kemampuan berempati, bersosialisasi, adaptasi dan memiliki attitude yang baik.

Qatrunada sudah bisa salam kepada orang yang lebih tua. Ia juga selalu mengetuk pintu ketika akan masuk rumah, mengucapkan salam ketika bertemu dengan keluarga/teman/tetangga, dadah dan kiss bye ketika berpisah. Anak cersas itu sopan dan santun.

3. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intellegence)

Anak cerdas itu memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan nya dan memahami posisinya sebagai hamba.

Qatrunada sering mengikuti gerakan shalat, walau belum sempurna, ia mengadahkan tangan ketika akan berdoa, bergumam dan menujuk-nunjuk isi dalam Al-Quran ketika sedang mengaji. Ketika ditanya “Binatang, ciptaan siapa?”, dan pertanyaan sejenisnya, ia akan menjawab “Awoh” maksudnya adalah Allah, ia belum mampu berbicara dengan jelas dan sempurna. Ketika sudah selesai makan dan minum selalu berkata “llaaahh”, maksudnya alhamdulillah. Anak cerdas itu yang ta’at kepada Allah dan RasulNya.

Tentunya ketiga bagian kecerdasan ini sangat penting dimiliki oleh anak, sehingga kecerdasannya menyeluruh, menyangkut IQ, EQ dan SQ. Untuk membentuk kecerdasan anak secara menyeluruh, tentunya orang tua harus memberikan effort lebih. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua dalam mendukung kecerdasan anak :

1. Memberikan Contoh/Tauladan yang Baik

Anak adalah seorang peniru ulung, apa yang ia lihat akan ia lakukan. Oleh karena itu, orang tua sebagai role model pertama dan utama untuk anak, sangat penting memberikan contoh/tauladan yang baik, dalam perilaku maupun perkataan. Bahkan banyak riset yang menunjukan bahwa anak akan lebih mudah mencontoh dibandingkan memahami perkataan orang dewasa.

2. Mengajak Anak Berbicara dan Bercerita

Sering mengajak anak berkomunikasi selayaknya kita mengobrol dengan teman. Coba untuk membuka diskusi dengan anak, berdiskusi hal yang simpel saja, seperti; akan menghabiskan liburan bersama dimana akhir pekan ini, ketika ibu bingung ingin memasak apa hari ini, bisa coba mintai pendapat anak. Sering bercerita tentang apa saja, bisa mendongengkan cerita di dalam buku, atau cerita tentang masa-masa ibu mengandung si kecil misalnya.
Dengan sering mengajak berbicara dan bercerita, akan meningkatkan kecerdasan anak baik dalam hal perkembangan bahasa dan otaknya. Selain itu, anak akan lebih percaya diri dan merasa berharga.

3. Mendampingi Anak dalam Bermain dan Belajar

Dampingi anak dalam proses bermain dan belajarnya, jiwa dan raga orang tua harus berada bersama anak ketika itu, dalam arti kita benar-benar bermain bersamanya, fisik, pikiran dan hati kita. Banyak orang tua yang fisiknya mendampingi namun tidak dengan pikiran dan hatinya, fisiknya ada disamping anak namun fokusnya pada smartphone. Bagaimanapun yang lebih berharga itu quality time (kualitas waktu bersama) dibandingkan quantity time (lamanya waktu bersama).

4. Memberikan Apresiasi dan Menanamkan Konsekuensi

Setiap kali anak melakukan hal baru dan itu baik, maka beri apresiasi. Apresiasi sangat sederhana, misalnya dengan mengacungkan jempol, bertepuk tangan atau mengatakan “anak ibu/ayah hebat”, itu sudah masuk ke dalam apresiasi, ini sangat bermakna untuk anak dan dapat menguatkan prilaku tersebut.

Ketika anak melakukan hal yang kurang/tidak baik, maka tanamkan konsekuensi. Misalnya; ketika ia lompat-lompat diatas kasur, dan kita ingatkan untuk turun karena khawatir terjatuh, namun ia mengabaikannya dan tetap melompat-lompat, ketika ia terjatuh maka itu konsekuensi yang ia harus terima dari pilihannya. Katakan bahwa ini adalah konsekuensi ia yang mengabaikan peringatan ibu/ayah. Ini juga membantu untuk memperlemah perilaku kurang/tidak baik.

Apresiasi dan konsekuensi ini berbeda dengan reward dan punishment. Saya pribadi lebih memilih menanamkan apresiasi dan konsekuensi.

5. Memberikan Nutrisi yang Baik dan Seimbang

Ini tak kalah penting, mencetak generasi dengan kecerdasan optimal dan menyeluruh pastinya harus dengan nutrisi yang cukup, baik dan seimbang. Beri anak makanan yang dapat membantu mengoptimalkan kecerdasannya, bantu anak untuk menyukai makanan-makanan sehat seperti sayuran, buah, daging, ikan dan perlu dibiasakan sejak dini.

Orang tua bisa memberikan Cerebrofort, multivitamin anak untuk membantu kecerdasan si kecil, kini Cerebrofort dalam berbagai kemasan yang tentunya disukai anak seperti Marine Gummy ini.

Mengisi Liburan di Rumah, Happy dan Mengedukasi.

20180710_123816-011888268992.jpeg

Sudah menjelang minggu akhir liburan sekolah, setelah libur lebih panjang dari liburan sekolah biasanya, mungkin karena bertepatan dengan libur hari Raya Idul Fitri juga, jadi hampir 1 bulan liburan seolah kali ini. Dimulai dari sebelum Idul Fitri sampai 2 minggu setelah Idul Fitri. Wah, libur panjang seperti ini senang atau sedih moms? 🙈 Hihihi. Sekarang sudah masuk minggu akhir libur ya, diminggu akhir ini adakah moms masih merencanakan keluar rumah untuk berlibur? Atau memilih stay dirumah saja?.

Eemm mungkin banyak yang akan memilih stay dirumah sekaligus mempersiapkan anak-anak kembali ke sekolah ya, namun tak sedikit juga yang masih memanfaatkan untuk berlibur diluar rumah. Mengisi Liburan di Rumah, Happy dan Mengedukasi.

Mengisi liburan dirumah, terkadang memang suka bingung ya, kegiatan apa yang akan dilakukan dirumah bersama anak-anak, dan yang pastinya ingin liburan mereka tetap seru juga bermanfaat walau hanya didalam rumah. Salah satunya memfasilitasi anak-anak dengan permainan edukatif.

Apa itu Permainan Edukatif?

Permainan edukasi adalah semua bentuk permainan yang dibuat, untuk memberikan pengalaman pendidikan atau pengalaman belajar kepada para pemain-pemain permainan tersebut. yang diberi muatan pendidikan. (Sumber : Kompasiana).

Jadi permainan edukasi adalah permainan yang tidak hanya dapat happy namun dapat mengembangkan otak dan keterampilan anak juga. Pentingnya memilih permianan untuk anak, kenapa? Karena otak dan kemampuan anak sedang berkembang pesat, sayang jika tidak dimanfaatkan dengan baik di masa-masa golden age ini.

Memilih Mainan untuk Anak

Pilihkan permainan yang anak juga ikut andil berperan didalamnya, jangan berikan anak permainan yang instan. Contohnya, ketika kita memberikan mainan kereta api yang sudah bisa berjalan dengan sendirinya menggunakan baterai dan anak hanya bisa bertepuk tangan melihatnya drngan happy, tidak ada yang bisa anak lakukan lagi. Berbeda ketika kita memberikan ia permainan lego, anak akan memainkannya dengan happy dan juga merangsang kreatifitasnya, pemecahan masalahnya, melatih motoriknya dll.

Permainan edukatif tidak harus beli ko, sekarang banyak sekali orang tua yang memfasilitasi anak dengan bermain sambil belajar dengan metode montesori, sudah banyak juga pelatihan dan buku-bukunya. Permainan-permainannya dibuat sesuai tugas perkembangan usia anak, dan dibuat dengan bahan-bahan sederhana yang ada dirumah, jadi ga harus mahal.

Nah selain melatih anak mengembangkan otaknya, ini juga menuntut orang tua berfikir kreatif dan tentunya kesabaran yang ekstra yaa 😊. Kenapa? Karena tentunya kita sebagai orangtua perlu mengajarkan perlahan dan berulang bagaimana cara memainkannya.

Dengan permainan edukasi juga anak mengembangkan daya juang, belajar measakan kegagalan, mengembangkan daya kreatifitas, melatih keterampilan motorik kasar dan motorik halus, pemecahan masalah, kesabaran, dan masih banyak lagi.

Contoh Permainan Edukatif

Beberapa contoh permainan edukatif sepert; puzzel, lego, flash card, dan lain-lain. Belum lagi krasi permainan sendiri yang dibuat oleh orangtua dirumah yang tentunya akan lebih beraneka ragam dan lebih kreatif yaa 😊.

Nah, saya ada rekomendasi buku yang cocok untuk menciptakan permainan edukatif dirumah. Alhamdulillah ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi, terkadang lama untuk memunculkan ide, bisa tengok-tengok buku ini, eh jadi dapet inspirasi deh buat permainan apa hari esok.

Dibuku ini juga dibedakan permainan sesuai dengan rentan usia anak, dan dijelaskan apa saja manfaat dari permainan untuk anak.

Manfaat Lainnya

Selain manfaat-manfaat yang sudah dipaparkan diatas, manfaat yang paling penting menurut saya adalah permainan edukatif ini akan menambah bonding atau kedekatan anak dengan kita selaku orang tua. Sehigga meminimalisir penggunakan gadget baik untuk anak dan kita terutama sebagai orang tua, menambah quality time yang berharga setiap detiknya. Jadi yuk manfaatkan liburan anak yang hanya beberapa hari ini dengan membuat permainan edukatif bersama dirumah 😀.

Dalam tulisannya mba Astin Astanti yang berjudul Mengisi Liburan Anak Di Rumah juga membahas beberapa tips yang bisa dilakukan bersama anak dalam mengisi liburan dan tetap seru walau hanya dirumah, yuk tengok 😀.

Tulisan ini diikut sertakan dalam Post Trigger KEB kelompok Dian Sastro.

Scroll To Top