Story HikmahNisa

Day 10 Game Level 3 Melatih Kecerdasan BunSay IIP

Melatih berbagi juga salah satu bentuk kecerdasan emosional. Ikhlas membagikan kepunyaan, kepemilikan, kesenangan dan kebahagiaan kepada orang lain adalah bentuk dari memahami perasaan orang lain juga mengasah empati.

Tidak jauh-jauh, kami latih dari mulai yang sederhana ketika ia sedang main mainan kesukaannya atau makan makanan kesukaannya dan kami ijin meminta, maka ajarkan untuk berbagi.

Ketika ia tidak mau tak masalah, tidak apa-apa, jangan menyalahkan apalagi menghukum. Balita masih bersifat egosentris dan proses belajar tidak akan semulus yang dibayangkan.

Ketika ia mau berbagi, katakan terimakasih dan beri apresiasi. Kami belum memanamkan reward, saat ini kami masih memilih apresiasi dengan cukup memberikan tepuk tangan atau acungan jempol atau memeluk sambil tersenyum lebar mengatakan kami senang dan bangga ia bisa berbagi.

Kenapa bukan reward? Karena penyimpangan niat melakukan sesuatu biasanya karena reward. Karena apresiasi lebih menyentuh dan bermakna menurut kami.

Dengan pelukan, acungan jempol atau sekedar berkata sambil tersenyum lebar kalau kami senang dan bangga padanya, jangan lupa juga mengatakan prilakunya yang membuat senang/bangga tersebut.

“Terimakasih ya nak, ibu/ayah senang dan bangga padamu sudah mau berbagi”

#tantangan_hari_ke10
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Day 9 game level 3 melatih kecerdasaan BunSay IIP

Mengenali emosi diri sendiri ini adalah salah satu poin dasar melatih kecerdasan emosional.

Saya pernah mengikuti seminar Ibu Elly Risman, Beliau menceritakan salah seorang ibu berkonsultasi padanya, yang akhir-akhir ini perubahan pada dirinya yang tidak pernah terjadi sebelumnya semenjak memiliki seorang putri. Setelah ditelusuri masalahnya berkaitan dengan ‘inner child’, namun pokok permasalahan ternyata ada di ketidakmampuan mengenali emosi sendiri, ia tidak mampu mengidentifikasi emosi apa yang dapat pada dirinya.

Pentingnya mengenalkan emosi sejak dini pada si kecil, ketika mengenalnya next ia akan mampu mengidentifikasi dan akhirnya mampu mengendalikannya.

“Ini bukan makanan nak, ini kertas buat nulis, jadi ga boleh dimakan ya, ibu ambil.”

Ia protes dengan menggeleng-gelengkan kepala dan mengepak-ngepak tangan sambil berkata “aaahhh aahhhh”

Maka bantu ia mengenali emosinya;
“Qatrunada kesel ya ibu ambil kertasnya, maaf yaa ibu ganti dengan mainan yaa”

“Kenapa nangis nak? Sedih ditinggal ibu k kamar mandi? Sini ibu peluk, Ibu sebentar ko ke kamar mandinya, udah ga apa-apa main lagi yuu”

“Iihhh seneng yaa nak ayah pulang, salam dulu sama ayah”

Kami biasanya menganalisa dari ekspresi dan sikap si kecil bahwa ia sedang bahagia, sedih, kesal, dan lain sebagainya.

Biar ia tau bahwa ini namanya rasa kesel, seperti ini yaa rasanya. Oh ini namanya rasa sedih, rasanya seperti ini yaa. Oh ini namanya rasa senang, seperti ini yaa rasanya.

Ibu ayah akan bantu kamu mengenali berbagai emosi yang terjadi padamu nak, sehingga kelak dirimu akan mampu mengidentifikasi, mengendalikan emosi diri dan memahami emosi orang lain. Tumbuhkan rasa empati yang kuat sehingga kecerdasan emosimu terlatih sejak dini. Amiin YRA

#tantangan_hari_ke9
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Day 8 game level 3 melatih kecerdasaan BunSay IIP

Kecerdasan yang tak kalah penting dilatih sejak dini adalah kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional (emotional intelleigence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.

komponen-komponen dasar kecerdasaan emosional adalah :

  1. kemampuan mengenali kemampuan diri sendiri (kesadaran sendiri).
  2. kemampuan mengelola emosi.
  3. kemampuan memotivasi diri sendiri (motivasi).
  4. kemampuan mengenali emosi orang lain (empati).
  5. membina hubungan dengan orang lain (keterampilan sosial).

Sumber : Materi ke3 BunSay IIP

Dalam sisa 7 hari kedepan game level 3 tentang melatih kecerdasan ini, saya akan belajar melatih kecerdasan emosional si kecil dengan tema “Memahami diriku dan orang lain”

Kecerdasan emosional juga membuat anak bisa mengenali dan mengendalikan emosi diri sendiri serta emosi orang lain. kecerdasan ini sangat diperlukan agar seseorang bisa mencapai taraf kebahagian di ranah nyaman (good life), karena kebutuhan jasmani, rohani dan spritualnya terpenuhi.

Hal yang sederhana adalah mengajarkan kata “tolong, maaf dan terima kasih”. kapan kata itu harus ia katakan, ketika perasaan seperti apa yang ia rasakan sehingga harus mengatakan salah satu kata tersebut.

Lagi-lagi proses pengenalan ini dengan proses pembiasan sejak dini. Bismillah kami bisa.

Manusia dengan EQ yang baik, mampu menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah bersosialisasi, mampu membuat keputusan yang manusiawi dan berpegang pada komitmen.

Dalam teorinya Robert K.Cooper, Ph.D. menjawab bahwa “kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengarus yang manusiawi.

#tantangan_hari_ke8

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Day7 Game Level3 Melatih Kecerdasan BunSay IIP

Hembusan nafas, kedipan mata, berdetaknya jantung, dan lain-lain adalah sebagian nikmat besar yang sering terlupakan.

Lupa kalau jantung ini ternyata terus berdetak, lupa kalau nafas ini selalu terhembus, mata berkedip, paru-paru berkerja, lambung berkerja, usus bekerja, semua bekerja untuk kami tanpa harus kami bayar.

Bayangkan jika harus kami bayar, kami tidak akan mampu membelinya bahkan orang terkaya di dunia pun tak akan bisa.

Nikmat mahal ini terlupakan, kenapa? Karena kami memikirkan yang belum ada, yang belum kami miliki, tanpa sadar berjalanlah kami menuju jiwa-jiwa kufur nikmat, tidak pernah puas. Nauzubillahiminzalik.

Beristighfarlah kami, memohon ampun dan mulai memperbaiki diri.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Allah bertanya pada kami, lagi dan lagi dengan pertanyaan yang sama karena tau kami tidak mampu menjawabnya.

Sungguh, nikmatNya begitu luar biasa.

Mengenalkan nikmat-nikmat Allah juga salah satu penanaman tauhid. Sehingga si kecil tau bahwa nikmat ini mahal harganya, jika harus membeli kita tak mampu membelinya, tapi Allah memberikan kita gratis. Subhanallah, begitu baiknya Allah pada kita.

“Qatrunada sudah mandi seger yaa, Alhamdulillah berterimakasih sama Allah sudah kasih nikmat air bersih yaa jadi bisa mandi, Makasih ya Allah.”

“Qatrunada udah kenyang? Alhamdulillah berterimakasih sama Allah sudah dikasih nikmat makan enak dan sehat yaa, Makasih ya Allah.”

“Qatrunada sudah bangun tidur? Alhamdulillah berterimakasih sama Allah sudah dikasih waktu tidur buat istirahat yaa, makasih ya Allah.”

Mungkin sangat sepele tapi ini akan sangat mempengaruhi hidupnya kelak. Karena tujuan akhirnya adalah menjauhkan dari sifat kufur nikmat dan keluh kesah, tertanam lah jiwa syukur dan ujungnya menjadi jiwa yang Qana’ah.
Qana’ah adalah hati yang selalu merasa cukup dengan yang Allah beri.
Amiin YRA.

#tantangan_hari_ke7
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Day6 Game Level3 Melatih Kecerdasan BunSay IIP

Kali ini pengenalan melalui cerita. Biasanya kami membacakan buku mengenai Allah yang ada di paket buku Hallo Balita yang berjudul;

“Aku Sayang Allah”

“Aku Sayang Rasulullah”

“Aku Belajar Shalat”

“Aku Belajar Puasa”

“Aku Cantik Pakai Jilbab”

Judul buku yang mengenalkan ketauhidan. Selain mengenalkan Allah kami pun bercerita untuk mengelakan ciptaanNya.

Bahwa dirinya, ibu, ayah adalah ciptaan Allah. Bahwa mata, hidung, mulut, telinga dan semua yang ada pada dirinya adalah ciptaan Allah.

Bahwa binatang yang sering kami kenalkan melalui gambar itupun ciptaan Allah. Bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bahwa Allah itu Maha Esa, tiada Tuhan selain Dia. Bahwa Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menyayangi dirinya, ibu dan ayah, juga semua mahlukNya.

“Qatrunada, hidung mana? Ini yaa (sambil menunjuk ke hidung), mata mana? Ini yaa (sambil menunjuk ke mata), mulut mana? Ini yaa (sambil menunjuk ke mulut), telinga mana? Ini yaa (saambil menunjuk ke telinga). Tau ga, kalau mata, hidung, mulut, telinga dan semua anggota badan Qatrunada itu ciptaan Allah.”

“Qatrunada (sambil memegang dadanya), ibu (sambil memegang dada ibu), ayah (sambil menunjuk ayah), ciptaan Allah juga.”

“Ehh meng gomeng (kucing) mana ya? Kuda tuktiktaktiktuk mana ya? Kalau bebek wekwek mana?. Tau ga kalau meng gomeng (kucing), bebek wekwek, kuda tuktiktaktiktuk dan semua binatang adalah ciptaan Allah juga.”

———————

“Allah itu maha besar, maha kuasa, maha segalanya, bisa menciptakan semuaaanya.”

“Qatrunada, ibu dan ayah sayang Allah, Allah juga sayang pada kita ❤.”

#tantangan_hari_ke6

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Day5 Game Level3 Melatih Kecerdasan BunSay IIP

Alam bawah sadar adalah bagian pikiran manusia yang tidak disadari keberadaannya, namun pengaruhnya sangat besar.

Maka beberapa program pelatihan pengembangan diri dalam bidang psikologi banyak yang menekankan pada sugesti alam bawah sadar.

Seperti bongkahan es di lautan, 10% yang terlihat (alam sadar) dan 90% tidak terlihat (alam bawah sadar).

Saya pernah baca di salah satu tulisan mba @juliasarahrangkuti, beliau menuliskan;

Imam Al-Ghazali berkata bahwasanya urutan menanamkan tauhid ada tiga, yaitu: menghafal, pemahaman, ikatan-keyakinan-membenarkan.

Saat fase menghafal, kita bisa terus-menerus mentalqinkan anak mengenai Allah SWT.

Proses meralqinkan ini saya praktika dengan membisikan kepada si kecil ketika sedang mengASIhi. Posisi si kecil sedang nyaman menyusu sambil memejamkan mata dan setengah tertidur, saya bisikan;

“Allah bersamaku, Allah menjagaku, Allah melihatku, Allah mendengarku, Allah di hatiku.”

“Allah sayang aku, aku sayang Allah, aku anak shalehah yang taat pada Allah, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.”

Yaa.. sedang menanamkan sugesti ke alam bawah sadarnya. Posisi si kecil yang sedang nyaman dan setengah sadar ini saya manfaatkan dengan memberikan sugesti-sugesti baik termasuk ketauhidan.

Pengenalan ketauhidan bisa dilakukan sejak dini sekali, sejak bayi bahkan sejak dalam kandungan. Manfaatkan masa golden age si kecil dengan sugesti-sugesti positif ke alam bawah sadarnya.

Insya Allah tertanam kuat padanya. Amin YRA.

#tantangan_hari_ke5

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Day4 Game Level3 Melatih Kecerdasan BunSay IIP

Ketika kami betah berlama-lama didepan gadget, ketika kami betah berlama-lama menonton ataupun membaca buku. Di sudut terpisah ada yang terabaikan, lama terabaikan, bahkan lama sekali, sampai-sampai debu menemani kesendiriannya.

Ternyata yang terabaikan adalah yang akan menjadi syafa’at kelak. Ternyata yang terabaikan adalah yang memberi kebaikan sepuluh kali lipat di setiap huruf nya. Ternyata yang terabaikan adalah panduan, petunjuk dalam kehidupan.

Yaa.. Al-Quran,

“Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para ahlinya.” (HR. Muslim)

Sudah membaca Quran kah hari ini? Sudah berapa juz kah? Sudah berapa lembar kah? Sudah berapa ayat kah? Atauu sudah berapa huruf kah?

“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Maka beristigfarlah kami, memohon ampun atas kelalaian ini, memohon kemudahan dalam membaca dan mempelajarinya dan berjanji tidak akan melupakannya apalagi meninggalkannya (lagi).

Karena sesungguhnya kehidupan kami sudah teratur dengan indah melalui firmanNya dalam Al-Quran. Menjauhnya dari kami maka sesat tiada jalan, tidak ada cahaya, gelap gulita. Nauzubillahiminzalik.

“…..Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan atas tiap sesuatu serta petunjuk dan rahmat dan kegembiraan bagi Muslimin.” (Q.S. An-Nahl:89)

Kami sangat malu sekali beberapa bahkan banyak surat yang sudah hafal (dulu) sekarang terlupakab karena jarang pengulangan dan jarang dipakai ketika shalat.

Sudah beberapa minggu kebiasaan setelah shalat magrib adalah murojaah bersama. Yaa.. murojaan hafalan surat juz ke-30 saja, mencoba berikhtiar mengingatnya sehingga bisa hafal kembali.

Proses murojaah berlangsung 1jam sampa adzan isha berkumandang. Dalam prosesnnya tentu tak semulus yang dibayangkan, apalagi putri kami baru genap 1tahun, masih banyak tingkah lucu dan mengemaskan ketika proses murojaah. Yang patut disyukuri adalah ketika ia begitu antusias dan selalu antusias melihat Al-Quran dan selalu ‘kepo’ akannya 😊😊, Alhamdulillah ☺.

“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang memperlajari al-Qur’an dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari)

#tantangan_hari_ke4

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Day3 Game Level3 Melatih Kecerdasan BunSay IIP

Sadari bahwa ibadah itu bukan kewajiban tapi kebutuhan. Seperti kami butuh makan, butuh minum, seperti itu pula butuh ibadah kepadaNya.

Sadari bahwa ibadah bentuk rasa syukur kami padaNya, Rabb yang Maha Baik. Karena bagaimanapun begitu luar biasanya nikmat yang sudah berikanNya kepada kami.

Karena setelah itu tidak ada lagi rasa lelah, rasa beban, rasa malas untuk melaksanakannya. Malah seakan kami dibuat tidak akan bisa tanpa itu semua, yaa.. kami butuh, sangat butuh.

Sadari bahwa ibadah atau tidaknya kami tidak sama sekali menurunkan atau meningkatkan ke-Maha-an nya Allah, tidak berkurangnya atau bertambahnya Maha Agung, Kuasanya Allah. Kamk sangat tidak mempengaruhiNya.

Tapi sebaliknya kami lah yang sangat membutuhkanNya, pertolonganNya dan ridhoNya. Kami lah yang sangat bergantung kepadaNya.

Mengenalkan ibadah yang menjadi salah satu kebutuhan hidup pada si kecil dengan memberikan pernyataan ketika akan shalat

“Nak, ibu shalat dulu ya, ibu pakai mukena dan sejadah ini. Qatrunada mau ikutan shalat? Ibu pakaikan kerudung mau?”

“Sini salam dulu sama Ayah/Ibu sudah selesai shalat.”

“Berdoa dulu yu sama Allah, biar kita semakin dekat dan disayang Allah.”

Kami sangat bukan orang tua yang sempurna, kami hanya orang tua biasa yang sangat tidak tau apa-apa, sehingga perlu terus belajar agar kelak titipanNya ini benar-benar mencintai dan dicintaiNya.

#tantangan_hari_ke3

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Day1 Game Level3 Melatih Kecerdasan, BunSay IIP

Bismillah Qatrunada akan menjadi partner saya dalam menjalankan games level 3 ini.

Dan kecerdasan yang akan dipilih adalah kecerdasan dasar yang paling penting menurut saya yaitu Kecerdasan Spiritual (Spiritual and Emosional Intelegence) atau SQ.

Kenapa?

Karena kecerdasan spiritual membuat hidup penuh arti, anak akan mampu memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini. Membuat anak berpikir secara luas makna sebuah kesuksesan. Hal ini akan mendorong anak-anak mencapai kebahagian hakiki yaitu kehidupan penuh makna (meaningful life). (Sumber: Materi ke3 BunSay IIP)

Kami mengambil tema “Mengenal Allah dan cintaanNya”

Sejak dini kami (saya dan suami) sudah mulai mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap Rabbnya, kepada Rasulnya, kepada Kitabnya, kepada Agamanya.

Melalui indra pendengaran yang sejak dini kami mulai dengarkan pada Qatrubada. Karena dengan berbagai riset bahwa indra pendengaran seorang anak sudah berfungsi sejak dalam kandungan.

Setiap subuh kami dengarkan bacaan Al-Qura’an melalui salah satu media belajat Hafiz Talking Doll. Siang nya kami dengatkan doa-doa harian bergikiran dengan asmaul husna.

Kini Qatrunada sudah kami kenalkan dengan media visual dan audio-visual, baik berupa buku atau video.

Video yang kami perlihatkan berupa lagu anak islami seperti judul “Satu-Satu Aku Sayang Allah” atau “Aku Mau Pergi ke Mekkah”. Selama menonton video tetap kami dampingi dan diberi penjelasan atau kami ikut bernyanyi bersama.

Hari ini Qatrunada menonton video lagu yang liriknya seperti berikut;

Satu-satu aku cinta Allah

Dua-dua cinta Rasulullah

Tiga-tiga Al-Quran Kitabku

Satu, dua, tiga Islam Agamaku

Video berlangsung 2x pengulangan dan setelah itu kami menyanyikan kembali dengan gerakan juga ekspresi (tanpa video).

#tantangan_hari_ke1

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Day10 Game Level2 Melatih Kemandirian Anak Bunsay IIP

Pagi ini Qatrunada udah siap-siap mau kr nikahannya tenteu Disa, jam 10an langsung cus pergi ke gedungnya. Disana Nada ketemu tanteu-tanteu temen ibu, alhamdulillah Nada anteng. Disana Nada juga makan bubur sumsum, walau makannya disupin karena takut belepotan kena baju. Hhee. Ehh nemu kerupuk, jadilah Nada mam kerupuk sendiri 😊😊

Pulang dari nikahan tanteu Disa, kita pergi ke Cimahi, silaturahmi kerumah saudara ayah Nada dan disana ada emah uyut dan saudara-saudara yang lain baru datang dari Bali. Disana Nada main sama teteh Alesha, usianya beda 2bulan dengan Nada) jalan merayap-merayao bareng ke kursi, ke meja, makan bareng (biskuit, buah naga, pisang).

Kalau ada temennya doi selalu lebih semangat, seneng kali yah ada temen hhii Qatrunada juga liat ikan di akuarium dan doi seneng bin kepo banget sama ibu ikan. Hhii

Dan hari ini kelewat lagi belajar berdiri tanpa pegangannya karena seharian diluar dan ibu sama ayah rempongs. Duhh maapkan.

Alhamdulillah sudah 10hari mengerjalan games level2 ini. Hasil ceklis indikator kemandirian yang sudah Qatrunada capai dari listnya;

1. Belajar makan sendiri (metode BLW) ✔

2. Solo Play (memilih mainan dan bermain sendiri) ✔

3. Belajar berdiri sendiri tanpa pegangan ❌ 

NB. Nada sampai hari ini masih proses belajar berdiri tanpa pegangan, belum bisa konsisten tapi durasinya terus menungkat.

4. Belajar berjalan ❌ 

NB. Nada sampai hari ini masih proses belajar berjalan, saat ini Nada belum mampu berjalan sendiri. Tetap harus dipapah atau ada pegangan dengan merayap-rayap, alhamdulillah semakin cepat langkahnya.

Alhamdulillah hari ini dikasih nikmat begitu luar biasa sama Allah. 😊😊

Scroll To Top